Secangkir Kopi dan Telepati

by - 01.08

Pengusir sunyi tak terpatahkan sudah pasti adalah secangkir kopi.  Melalui kepulannya aku terkoneksi padamu. Kamu yang sekarang dimiliki langit dan tidak bisa kudekap lagi. Tapi paling tidak, secangkir kopi yang dulu sangat kamu gilai adalah proyeksi paling konkrit. Paling absolut. Dia sama sepertimu karena tidak pernah membiarkanku merasakan sepi meski hanya satu detik. Makanya, secangkir kopi selalu kubutuhkan untuk menopangku biar tidak jatuh.

Sepertinya, barangkali aku sudah rela melepaskanmu untuk langit, tetapi secangkir kopi adalah refleksi afektif dengan aroma terbaik yang pernah ada. Aku tidak bisa berhenti jatuh hati pada pekatnya yang membawa wajahmu tiap kali kusesap. Mimpi dirakit kembali. Cinta yang sakit pulih lagi. Meski tetap saja tempatmu pulang bukan di sisiku lagi.

Kopi itu pahit, tapi tidak sepahit sunyi. Kopi itu pekat, tapi tidak sepekat rasa nyeri. Selebihnya, kopi perantara telepati paling esensial antara aku dan kamu, antara fanaku dan abadimu, antara duniamu dan duniaku, juga antara renjana yang menggebu ingin dikecup oleh bibirmu.

Kau bilang, secangkir kopi adalah alat komunikasi yang kita gunakan untuk bertemu. Jika aku rindu, katamu reguk saja cairan berdedak itu. Dengan begitu aku bisa melihatmu muncul di depanku. Aku suka kopi. Dia penyampai pesan paling peka, peluruh luka, dan penjaga rahasia paling setia.

You May Also Like

2 komentar

  1. Kek goblin ye. Sekali tiup lilin, langsung muncul di depan orang yg meniup lilinya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaa gitu ya? Gue ga suka korea

      Hapus