PETRICHOR DAN SECANGKIR KOPI

by - 21.42

Malam ini hujan mengantar petrichor dengan selamat tepat di depan jendela kamar. Baunya enak. Setidaknya benda itu lumayan bikin tenang. Tubuhku agak sakit gara-gara digempur rindu yang sedari tadi mengamuk. Sial. Digagahi rindu mana enak. Rasa-rasanya, sudah berulang kali kepalaku dilabeli kertas bertuliskan pecundang karena gagal mengatasi satu rasa yang begitu merepotkan. Jika rasa rindu tidak perlu digubris, aku akan dengan senang hati membiarkannya berkeliaran. Sayangnya dia itu manja, dan aku sama sekali tidak bisa berduel dengannya tanpa berakhir dengan  banyak luka dan cedera.

Dikalahkan rindu untuk kesekian kalinya adalah rekor baru. Benda itu pasti senang sekali karena bisa bebas menyusup, menyimpan nama seseorang di dalam memori dan mengganggu konsentrasi. Aku sudah tidak punya senjata lagi. Cuma ada secangkir kopi di atas meja. Masih panas dan sedap. Barangkali aku harus berterima kasih pada cairan ajaib yang satu itu. Meski dia tidak banyak membantu, dia berhasil membuatku terjaga, jadi ada beberapa hal yang bisa dilakukan selain memikirkan si bejat hasil selundupan si rindu dan mengendap di otakku entah sudah berapa lama.

Tapi kemudian secangkir kopi berbisik di telinga bersama petrichor yang mengajakku berdiskusi. Kata mereka, buat apa capek-capek melawan, toh rindu terlalu kuat. Amunisi yang dimiliki terlalu banyak sedangkan aku hanya sendiri. Ditambah secangkir kopi tidak akan menambah jumlah pasukan, dan itu memuakkan. Sekali ini saja, mau tidak mau secangkir kopi kuturuti. Akibat dari meremehkan rindu ternyata bisa sebrutal ini. Kuhela napas pelan. Oke, mungkin kali ini aku harus tunduk dan digagahi rindu sekali lagi.


You May Also Like

8 komentar

  1. Rindu, rindu dan rindu. Rindu itu ibarat Menolak sinar matahari di siang hari dan berharap matahari terbit dimalam hari. Biarkan rindu itu mekar dngan sendirinya dan membuahkan sebuah pertemuan atau menjadi racun yang ckup untuk dtuangkan dalam kopi hangat yang engkau seduh malam ini. Pokoknya jngan tnyakan apapun padaku tntang rindu.

    Ini kok malah bkin syair...

    Ini si petrichor siapa ya? seolah olah dihidupkan bersama si kopi. But, keren kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Petrichor di sini abstraksi kok. Makasih udah mampir ya

      Hapus
  2. Rindu hanyalah ungkapan kata untuk menunjukan betapa dinginnya hati diterpa rasa yang sangat menyedihkan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anjay kasian amat hatinya sedih. Sini gue kasih nasi padang biar ga sedih lagi

      Hapus
  3. Sepertinya hujan yang membawa petrichor memang mudah sekali membuat kita jadi lebih galau dan merindu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup betul sekali, non. Aromanya itu ahahaha sentimental. Oia makasih udah mampir

      Hapus
  4. Aroma wangi kopi dan nikmat cairan hitam itu dirasa cukup untuk melawan rindu yg belum terlalu membara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lalu sekarang, bagaimana kabar cangkir kopimu? Masih hangat? Atau masih mencari pemilik rindu?

      Hapus