RINDU: ADITIF...DEFINITIF

by - 21.56

Ada yang bilang rindu itu penyakit. Ada yang melabelinya sebagai parasit. Bagiku, rindu semacam zat dengan rasa yang sungguh definitif dan paling bisa bertahan lama. Lupakan tentang cinta dan benci. Rindu bersemayam jauh lebih lekat. Dia menempel paling  rekat, dan satu-satunya yang tidak bisa disalahkan gara-gara memori seseorang datang lagi untuk kesekian kali.

Pemilik rindu biasanya selalu mutlak. Tidak bisa diretas dan kadang diskriminatif. Keheningan bermutasi menjadi bingar. Ketenangan yang dibangun setengah mati setelah melewati mekanisme melupakan ternyata tak cukup kuat melawan renjana. Dia menyelinap dengan sangat hati-hati, lalu tiba-tiba diam di sudut paling berbahaya dari jiwa-jiwa yang baru pulih dari cedera.

Ada yang bilang rindu itu manipulatif. Beberapa setuju mengatakan dia adalah zat aditif. Aku lebih mengiyakan yang kedua. Perihal rindu, dia adalah candu paling seru. Tabu, sekaligus lugu. Entah apa maunya si rindu. Dia belum mengizinkanku tidur nyenyak. Dia tidak rela aku bercumbu dengan mimpi dan mengenyahkannya seperti sesuatu yang tidak punya fungsi. Dia diam dan merengek, lalu ujung-ujungnya pasti jiwaku lagi yang menanggung semuanya. Rasa sakit yang menyenangkan karena merindu, juga euforia binal dari sebuah rasa paling absurd.

Bagiku, rindu bukan saja tentang bagaimana aroma seseorang tetap menjadi kesayangan. Bukan saja tentang bagaimana tetap hidup dengan siluet wajah masa lalu. Rindu adalah pilihan. Tetap bersamanya dan bernapas, atau membuangnya lalu mati konyol tanpa kenangan.


You May Also Like

2 komentar