BRUTALNYA SEBUAH KEBOHONGAN

by - 20.55

Tidak ada satu manusia pun yang tidak pernah mengatakan suatu kebohongan, seringan apa pun itu. Lagipula, white lie, seperti yang dibilang orang-orang sebagai kebohongan kecil untuk melindungi perasaan seseorang, kuanggap sebagai omong kosong setara dengan sampah busuk. Afirmasi tentang kejujuran menyangkut perasaan memang seringkali ternodai dengan dusta-dusta yang tadinya hanya seukuran otak monyet, lalu tumbuh lebih besar dari planet yang kita huni. Tadinya, tujuannya untuk melindungi. Tapi berakhir dengan ketidakpercayaan yang mengakar. Kuat. Lekat. Tidak bisa diganggu gugat.

Aku sering berbohong. Aku tidak bisa mengelak mengenai itu. Tapi paling tidak, ada beberapa kondisi di mana berbohong begitu sekuat tenaga kujauhi, yaitu kepada siapa, dan kebohongan macam apa yang terlontar dari mulutku. Berbohong pada Ayah Ibuku, juga pada orang-orang terdekat yang sangat kucintai sebenarnya merupakan usaha bunuh diri pelan-pelan. Aku belajar untuk meminimalisasikan kamuflase-kamuflase tak termaafkan itu pada mereka meski pernah kulakukan itu berkali-kali. Tetapi, di saat korbannya adalah diri sendiri, maka sakit hati atas sebuah kebohongan terasa sangat mutlak. 

Kurasa manusia-manusia bodoh yang masih saja tetap percaya setelah berkali-kali dihantam kebohongan masih bernapas di sekitar sini, termasuk diriku sendiri. Aku masuk dalam daftar makhluk-makhluk bebal karena masih sangat nyaman karena ditipu mentah-mentah. Mengetahui kebohongan di depan mata dan berpura-pura tidak tahu adalah alternatif memuakkan, tapi lumayan juga untuk mengetahui sejauh mana bisa menganalisa sebuah rasa, juga kata.

Tetap berteman dengan seseorang yang terus berdusta, barangkali preferensi sementara. Suatu hari aku akan mulai jemu, menertawakannya, lalu menyudahi sandiwara yang terus saja dimainkan sejak lama. Efek utama brutalnya sebuah kebohongan adalah matinya sebuah kepercayaan. Jika benda itu sudah masuk peti mati, tentu saja tidak bisa hidup lagi. Si pembohong bakal rugi, karean satu-satunya yang selalu mempercayainya pergi dan tidak akan pernah kembali. 


You May Also Like

4 komentar

  1. Iya, sekali kita udah pernah bohong susah banget buat kembali membangun kepercayaan itu.

    BalasHapus
  2. Berbicara soal White lie, menurut saya kadang ini juga penting (asal bisa terkontrol). Berbagai macam resiko yang dihasilkannya juga terbilang sepadan.

    Contoh, jika kita terpaksa melakukan kebohongan yang besar (untuk menjaga perasaan orang lain), dan pada akhirnya ketahuan, resikonya juga besar. Dan jika kebohongannya cenderung sepele, ya risikonya juga kecil.

    Kalo saya pribadi sih, lebih milih berbohong (White lie), daripada harus nyakitin orang lain mah. Lah kalo jujur, tapi akhirnya dibenci mah, sama aja bohong dong :) hehe. Apalagi kalo 'kejujuran' ini nantinya bisa berdampak pada pecahnya silaturahmi. Ah mending jangan deh.

    Yoosh salam kenal :)

    BalasHapus