Setengah Nyawa dan Secangkir Kopi

by - 20.44

Setengah nyawaku berutang banyak pada secangkir pekat. Energi terkuras. Tungkai lemas. Engahku jelas. Beruntung, seduhan antara bubuk kopi dan rindu mengakumulasi tenagaku yang terpecah gara-gara mencintai manusia otak brengsek sepertimu. Tapi aku justru malah menikmatinya. Kata orang, jatuh hati pada berandal adalah cara termudah melukai jiwa sampai titik paling parah.

Dulu, cibiran tidak pernah absen meluncur dari mulutku mengenai kopi. Ah, palingan cuma cairan yang tidak punya nilai lebih tinggi dibandingkan kudapan Mont Blanc, sekerat perkamen tebal dengan sastra rumit, juga aroma asin angin pantai. Aku keburu menghakimi kopi sebelum dia kucumbu. Aku memaki tanpa hati sebelum kepulan hangat itu memaksaku mengakui kemampuannya mengenyahkan rasa nyeri.

Sekarang aku di sini, disetubuhi wangi kopi sampai pagi. Tubuh bertekuk lutut beberapa detik setelah partikelnya berhasil mulus melewati tenggorokanku. Gawat. Aku bersedia diperbudak bubuk-bubuk halus ini tanpa bisa menghinanya lagi. Sama seperti tidak bisa lepas darimu, begundal tukang bikin patah hati.

Tapi tidak apa-apa. Setengah nyawaku masih baik-baik saja. Separuh logikaku masih bisa dipakai. Paling tidak, yang satu itu tidak tercoreng luka kelas atas yang terus saja menganga. Lucunya, aku tidak mau perih ini pergi. Aku mau tetap denganmu...dengan cerita-cerita mengenai cinta, juga dengan agungnya secangkir kopi setiap hari.

You May Also Like

4 komentar

  1. Tulisan kali ini berbeda, keren kak. :)

    Kopi memang selalu punya keajaiban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo klik label Prosa, tulisan kayak gini banyak banget. Cuma memang lebih suka tulisan random.

      Hapus
    2. Blogwalking ke blogku juga dong kak.

      Hapus
    3. Siaaap nih lagi baca

      Hapus