RENAISSENCE

by - 19.59

“Fiuhhh…akhirnya beres juga. Nih. Bagaimana menurutmu?”

Renai menunjukkan hasil lukisannya dengan mata bersinar. Aku yang masih berkutat memotret objek-objek menarik di taman belakang kampus menghampiri. Sesaat kemudian kuamati kanvas yang sejam lalu masih telanjang dari goresan warna figuratif. Tidak. Aku tidak benar-benar menganalisa lukisan yang dibuat Renai, tapi justru memandangi gadis itu dengan butir-butir bening di sekitar pelipisnya. Aku memperhatikan lip balm yang dengan angkuh melapisi bibir tipisnya, juga mengagumi profil wajahnya yang sangat persis dengan kontur wajah gadis zaman peralihan. Baru kusadari bahwa seharusnya yang kucermati adalah benda di samping Renai, bukan dirinya.

“Andra! Kok diam aja? Beritahu aku tentang lukisan ini, dong. Apa yang harus kuperbaiki?”

“Oh, maaf. Kurasa…densitas warnanya lumayan,” pujiku agak salah tingkah, “Gradasinya teratur, identik dengan sinar radial yang dihasilkan Nebula Filter. Hanya saja agak dingin.”

“Ya ampun, Ndra. Kau mencoba menyamakan unsur defisit lukisanku dengan detail fotografimu? Itu kan tidak sama. Lagian apa itu tadi? Densitas? Nebula apa? Jangan menggunakan bahasa fotografi di depanku, Ndra. Aku kan…ga paham.” Renai memonyongkan bibirnya. Protes.

“Hahaha maaf, soalnya menurutku fotografi dan melukis itu mirip. Hanya beda eksekusinya saja. Nah, coba perhatikan. Di sini. Bagian ini. Kau tidak memberikan nyawa. Efek dimensionalnya kurang dalam. Hmm…gimana cara menjelaskannya, ya? Pokoknya…warna di sebelah sini kurang hangat. Kau paham, kan?”

“Gitu ya? Arggh…sebel, deh!” Renai mengacak-acak rambutnya, “Aku mencoba mencari apa yang kurang dari tadi. Kurang hangat, ya? Berarti harus….hm…baiklah. Akan kuperbaiki nanti. Eh iya…”

“Apa lagi?”

Mata Renai memicing, “Dari tadi kau sibuk memotret. Bagaimana bisa kau…”

“Menganalisa lukisanmu secara spesifik?”

Renai mengangguk.

“Soalnya aku cerdas.”

“Yeee…narsis!”

Aku tertawa geli. Air muka gadis ini menarik sekali jika sedang mencibir seseorang.

“Kadar glukosaku sepertinya menurun, nih. Aku butuh sesuatu yang manis.” Renai menguap.
 “Mont Blanc?”

“Ng…tidak, ah. Itu terlalu creamy dan aku tidak terlalu suka kastanye.”

“Ya sudah. Speculoos dengan Banana Praline Cremeux kalau begitu. Makanan Belgia yang satu itu cukup menarik.”

Perfect! Eh, iya, Ndra. Bulan depan kau sudah terbang ke Singapura, kan? Aku pasti akan kangen kamu. Nanti, siapa yang akan menganalisa lukisanku?”

“Cuma sebulan. Aku harus segera mengurus hal-hal yang berkaitan dengan S2-ku di sana. Sekalian liburan”

“Iya, deh…yang mau lanjut S2. Tapi, sebulan itu bagiku sangat lama.”

“Nanti kubawakan oleh-oleh.”

“Beneran? Asik! Yuk, Ndra. Aku sudah lapar. Oh ya, hari ini tidak usah mengantarku pulang. Aku mau bertemu seseorang.”

“Pacarmu?” tanyaku sedatar mungkin. Rona merah tiba-tiba muncul di pipi Renai. Pertanyaan konyol itu seharusnya menyangkut saja di tenggorokanku. Jawabannya sudah pasti positif. Presumsiku tidak akan meleset jauh. Buat apa kutanyakan? Dasar bodoh, rutukku pada diri sendiri.

“Dengan pakaian seperti ini?” alis kananku terangkat mengamati lengan baju Renai yang belepotan cat minyak.

“Dia tidak akan memerhatikan, Ndra.”

“Ooh, Oke.”

Punggung gadis itu mulai berlalu. Aku hanya beberapa jengkal di belakang, melihat bagaimana dia nanti akan menoleh dan meraih tanganku. Selalu seperti itu.

****

Renai Viscenzia. Makhluk dengan mata cokelat terang pesaing ketergila-gilaanku terhadap fotografi. Gadis dengan kombinasi berbahaya. Gadis yang dua tahun ini menyelinap dan berputar-putar di dalam otakku tanpa henti. Cantik, cemerlang, juga ekspresif. Terkadang kucuri mimik-mimik menarik dari wajahnya menggunakan benda berlensa yang selalu kubawa setiap hari tanpa sepengetahuannya.

Beberapa orang mulai berpikir kritis mengenai hubungan perasaannya dengan seseorang dan mempertimbangkan apa saja resiko yang bisa timbul jika sudah mencapai titik darurat. Kedekatanku dengan Renai, adik tingkatku, tidak bisa dipaksakan lebih dari persahabatan. Kedekatanku dengan kekasih orang tidak bisa kutukar dengan status lain. Awalnya aku pun hanya menyukai Renai dengan karakternya yang simple dan konkrit. Lama-lama, aku malah terjebak hingga perasaan suka ini tiba-tiba naik level. Sial.

Tubuhku dan Renai hanya dihalangi sejengkal jarak. Uraian rambut kemerahannya terpapar cahaya senja, agak kusut namun tetap menarik. Blouse putih dengan motif bunga-bunga aster kecil yang dikenakannya sedikit longgar tetapi stadium pesonanya masih ada di rangking teratas. Brengsek benar. Kalau sudah begini, aku harus memberi hormat pada Leica-ku karena selalu menjadi penyelamat untuk berkamuflase, pura-pura sibuk sedangkan detak jantungku tidak mau diajak kompromi sama sekali. Bravo.

*****
 
“Terima kasih atas makan siangnya tadi. Aku selalu suka Grilled Prawn with Basil Sauce di Beatrice Quarters. Enak!”

“Oh..”

“Tadi kau hanya makan sedikit padahal sudah menemaniku seharian. Ga capek, Ndra?”

“Ga terlalu. Sekarang kan, giliranmu yang menemaniku. Aku sedang berpikir mengenai tempat yang…a lil’ bit jazzy…yang tadi siang kau bicarakan itu.”

Renai meletakkan telunjuknya di bibir, mengetuk-ngetuknya perlahan, “Jika kau ingin nuansa oldschool, kau harus membayangkan tempat dengan ilustrasi musik milik Wes Montgomery. Tapi dengan usiamu, Billy Gilman mungkin cocok. Tapi kujamin, tempat yang akan kutunjukkan ini akan klop dengan seleramu.”

“Apa kau memang secerdas ini?” sanjungku kagum tanpa memandangnya.

Renai mengikik lalu menatapku yang berjalan pelan di sampingnya. Efeknya lumayan. Aku harus mentransformasi kegugupan dengan melihat-lihat memori foto di kamera agar emosiku tak tampak transparan. Percayalah, yang satu itu butuh upaya serius. Beradu dengan mata Renai terkadang bikin aku sukar berpikir. Buntu. Ujung-ujungnya malah jadi orang bodoh. Iya, bodoh karena menyampaikan perasaan saja tidak punya nyali.

“Ndra, apa…kau tidak punya pacar?” tanya Renai tiba-tiba.

“Yang kau lihat selama ini gimana?” aku balik bertanya, masih berakting repot dengan kamera. Benar-benar emosi artifisial yang menyusahkan.

“Yaa...aku tidak pernah memergokimu berduaan dengan seorang gadis.”

“Tenang saja, orientasiku seratus persen tidak menyimpang. Aku normal.”

“Terus, apa kau pernah jatuh cinta?” tanya Renai tiba-tiba.

Hampir saja mulutku menganga. Pertanyaan yang ini belum pernah kuprediksikan. Tidak punya kekasih bukan hal yang patut dipersoalkan, menurutku. Tapi ditohok dengan pertanyaan yang jawabannya membingungkan sukses membuatku gelagapan.

“Tidak,” jawabku akhirnya, “Aku tidak pernah jatuh cinta.”

Bohong besar. Renai sudah menyeretku begitu jauh dan tidak bisa berhenti. Bersamanya, kelenjar pituitary di bagian bawah otakku memproduksi endorphin lebih banyak dari biasanya. Dengan dia, beberapa hal menyakitkan seketika terlupakan meski sementara. Perceraian orangtuaku, juga rasa bersalah terhadap Adrian kakakku yang entah kapan bisa kutebus.

Terlepas dari Renai seorang gadis yang hatinya sudah dititipkan kepada orang lain, aku menjadi sangat egois dengan menginginkannya tetap ada di sisiku. Entahlah. Lagipula aku tidak pernah ingin bertanya apa pun mengenai kekasihnya. Itu bukan topik yang bagus untuk diobrolkan. Bikin sakit hati. Tidak boleh ada celah sedikitpun untuk nama orang lain ketika Renai sedang bersamaku. Kurasa itu cukup adil.

“Nah, kita sudah sampai. Bagaimana? Ini tempat yang bagus untuk hunting, kan?”

Aku sedikit tercengang. Gedung tua yang sudah tidak terpakai yang berada di ujung jalan ini sering sekali kulewati. Tetapi senja mengubah ornamen pantulan warna pada dindingnya dengan sangat kentara, memutasinya menjadi objek yang asing dan berbeda. Bagaimana bisa aku tidak menyadari tempat ini?

“Jenius,” gumamku pelan, “Ternyata ada tempat epik kayak gini di Surabaya.”

“Di Jakarta juga banyak. Oh ya, kau tidak ke sana bulan ini?"

Aku menggeleng, “Rencananya sepulang dari Singapura baru aku akan ke sana. Ayahku masih di New York sampai dua bulan ke depan.”

“Ibu dan kakakmu bagaimana? Oh ya, hubungan Ayah dan Ibumu…apa sudah lebih baik?”

“Mereka tidak ikut. Bisa ganti topik?”

Renai nyengir, meminta maaf lalu membawaku ke dalam. Gedung yang terbelakang, tertinggalkan, namun masih berdiri meski tampak ringkih. Batu bata pelapis dinding luar sangat beraroma vintage, sedangkan di bagian dalam, Victorian Style masih belum pudar. Objek brilian begini mana boleh disia-siakan.

“Hati-hati. Ada rak-rak besi tua karatan di sini. Ah, lupa. Jangan ke lantai dua. Tangganya benar-benar tidak bisa diandalkan..” ujar Renai panjang lebar.

“Iyaa…” tukasku sambil mulai menggarap setiap angle di salah satu ruangan gedung di lantai satu, “Sepertinya kau sering ke sini.”

“Dua kali.”

“Ooh..”

Krekk!

“Andra awaaaas!!!”

Brakkk!!!

Renai mendorong tubuhku yang tidak hati-hati, menginjak kayu rapuh yang tepat menyangga rak besi setinggi dua meter dan menjadikannya oleng. Rak itu hampir mengenaiku jika saja Renai tidak sigap.

“Aduh…kan…sudah kubilang hati-hati…” Renai tersungkur dan mendarat di atas lantai kayu pendek kasar yang mencuat tajam.

“Lenganmu…” mataku terbelalak melihat darah segar mengalir dari lengan Renai.

“Aku baik-baik saja…” Renai meringis menahan sakit.

 “Kita…kita ke rumah sakit. Sekarang!”

****

Renai mencoba menyamakan langkahnya denganku di koridor kampus. Gagal. Laju kakiku lebih cepat sehingga engah gadis itu terdengar makin tak beraturan.

“Andra tunggu! Kau ini kenapa, sih?”

“Seharusnya kau tidak menolongku waktu itu! Kau terluka.”

Renai mengernyit, “Hal ini bisa terjadi pada siapa saja. Lagian udah diperban. Dokter juga bilang lukaku tidak parah. Jika aku tidak menolongmu, bisa-bisa kau cedera! Kenapa sikapmu aneh semenjak kejadian itu? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Tatapan Renai mengunci mataku. Aku masih memilih kalimat apa yang harus dilontarkan dan Renai masih menunggu.

“Aku…aku hanya…aku tidak ingin merasa bersalah lagi. Itu saja.." kataku akhirnya.

“Bersalah lagi? Maksudmu?"

“Untuk sementara kita tidak usah bertemu dulu.”

“Tapi kenapa? Jangan abaikan aku, Ndra…please…”

Permintaan Renai terpaksa tak kululuskan. Gadis itu parau meneriakkan namaku namun aku tidak menoleh. Pilihan yang sangat sulit. Aku akan kehilangan endorphin-ku untuk entah berapa lama. Kejadian tempo hari mengingatkanku pada peristiwa empat tahun silam. Semua berkelebat sangat cepat. Saat ini, yang kuinginkan adalah segera tiba di rumah, meredakan lelah di atas kasur, dan jika perlu menenggak Clobazam. Rasa bersalah berkepanjangan ini lama-lama bisa membunuhku.

****

“Ada masalah? Aku merasa kau sedang tidak stabil akhir-akhir ini…” Adrian, lelaki jangkung dengan rambut cepak itu duduk di atas ranjangku. Butuh beberapa lama baginya berjalan dari kamarnya ke kamarku dengan berusaha tidak terantuk meja atau menabrak pintu. Dia tidak bisa melihatku, tetapi inderanya yang lain justru jauh lebih peka.

“Biasa. Cewek.”

Adrian tergelak, “Jatuh cinta memang memusingkan, Ndra. Tapi..”

“Bukan. Ini soal sahabatku. Kau tahu sendiri aku tidak punya pacar..” selorohku.

“Ohh…jadi…”

Menatap Adrian membuat hatiku mencelos dan perih. Ditambah kejadian dengan Renai waktu itu. Persis seperti empat tahun lalu. Adrian mendorongku saat sebuah mobil hampir saja menabrakku. Insiden itu menyebabkan Adrian kehilangan indera penglihatannya. Meski bagi Adrian hidup dengan kondisi buta sudah bisa diterima, bagiku justru sebaliknya. Membayangkan hal buruk terjadi pada Renai gara-gara aku adalah beban yang akan sangat sulit kuatasi, sama sulitnya dengan mencoba menghilangkan rasa bersalah pada Adrian.

Beberapa hari kemudian, Renai masih berusaha mengorek keterangan dariku. Perasaanku campur aduk. Melihatnya begitu khawatir adalah kelegaan tersendiri. Gadis itu mengikutiku sejak dari pintu kelas sampai koridor kampus. Kali ini dia serius, mengekor sampai membuatku jengah.

“Jangan ikuti aku.”

“Jangan menghindar. Kuuntit kau ke mana pun pergi.”

“Apa kau tidak punya kesibukan lain, Ren?” ujarku tanpa menaikkan nada bicara. Renai memotong jalanku dengan berdiri di hadapan. Mata itu. Bibir itu. Gawat. Jantungku mulai abnormal lagi. Aku mendengus dan hendak melesat. 

“Jangan acuhkan aku. Apa saja, asal jangan acuhkan aku…”

Lidahku tercekat. Gadis ini memelukku erat. Apa-apaan ini? Posisi seperti ini memungkinkan Renai mendengar degup yang kusembunyikan rapat-rapat. Ini pertama kalinya aku merasakan lekuk tubuh Renai. Ini pertama kalinya aroma peach vanilla tubuhnya begitu bisa kuhirup sangat lekat.

“Jika aku salah, aku minta maaf. Tapi jangan acuhkan aku…aku tidak tahu mengapa kau berubah…”

“Aku…hanya takut. Itu saja.”

“Aku tidak akan ke mana-mana, Ndra."

"Ng...Ren...kau..kau memelukku terlalu erat. Aku tidak bernapas."

"Sebentar lagi saja. Selama ini aku penasaran bagaimana rasanya memelukmu. Ternyata…aromamu mirip dengan Dia.”

“Dia? Dia siapa?” tanyaku.

“Adrian.”

“Adrian?”

****

Adrian. Orang yang sama yang kehilangan penglihatan karena menyelamatkanku. Adrian Pradipta. Kakakku sendiri. Ketika mengetahui bahwa yang dicintai Renai adalah Adrian, tutup mulut mengenai perasaanku terhadapnya adalah opsi final. Kontrol ada di tanganku. Jika kuutarakan, semuanya akan berantakan. Jika kusimpan, paling tidak rasa bersalahku pada Adrian bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Aku tidak tahu bahwa mencintai seseorang bisa begini repot. Rasa sakit sekaligus kelegaan tidak pernah serumit ini. Renai pernah berkata bahwa saat mencintai seseorang, kondisi apa pun akan bisa diterima. Renai menerima kondisi Adrian dan mencintainya. Aku mencintai Renai dan menerima semua kondisi yang ada. Sialan. Meski begitu aku masih saja tidak rela.

****

Bandara Internasional Juanda, 28 Desember 2014

Suasana bandara selalu ramai meski pada pukul 5 pagi seperti ini. Koper dan tas punggungku sudah siap. Hanya ada aku dan para calon penumpang dengan wajah-wajah suram. Aneh. Entah mengapa bayangan Renai malah mengikuti sejak aku tiba dan aku ingin dia ada di sini. Padahal jelas-jelas kularang dia mengantar saat kami bertemu kemarin sore. Jarak kami sudah terlalu jauh sekarang. Tidak akan sama lagi seperti dulu, sebelum aku tahu siapa yang dicintai Renai.

“Besok, kau akan berangkat ke Singapura, kan? Apa aku boleh mengantar?”

“Aku ambil penerbangan pagi, pukul setengah enam. Tidak usah mengantar. Rumahmu kan cukup jauh dari bandara.”

Bibir Renai mengerucut, “Tapi…”

“Jaga Adrian, Ren. Aku tidak bisa menemaninya dalam sebulan ini. Itu akan jadi tugasmu.”

“Iya, tenang saja. Hmm…cepat kembali. Oke?”

Jawaban kuwakilkan dengan sunggingan. Renai balik tersenyum lalu memelukku. Mungkin ini pelukan terakhirku dengannya. Dan ketika kulepaskan, selamanya pelukan hangat itu akan menjadi milik orang lain. Milik Adrian. Seutuhnya.

You May Also Like

1 komentar