GITAR, JIWA DAN KAMU

by - 20.03

Kulit cokelatmu sama seperti gradasi pada kayu gitar yang selalu kau genggam ke mana pun pergi. Jatuh cintamu pada benda berdawai itu adalah salah satu magnet paling krusial. Aku benci karena harus mengaku cemburu. Cemburu pada instrumen menggelikan yang tak lebih dari sebuah konstruksi penghasil notasi. Tapi bagimu dia sama pentingnya dengan logika. Primer. Prinsipil. Esensial. Tidak peduli beberapa kali kucaci benda itu gara-gara tidak pernah gagal mencuri perhatianmu. Brengsek. Aku benar-benar iri.

Bersaing dengan benda mati tidak pernah lebih konyol dari ini. Meski begitu, aku memang sedikit menang karena memiliki sorot matamu, juga tawa renyah yang jarang kau berikan pada orang lain. Seharusnya itu cukup. Tapi aku ingin lebih. Aku mau tawa itu bisa lebih lama kunikmati. Aku mau lensa matamu lebih lama mengikat bayanganku di sana.
Katamu, senar yang dipetik plektrum sanggup menangkap bunyi dan merangkainya menjadi aksen tertentu. Garis atmosfir penghubung antara napasmu dan helaku. Intonasi jiwa yang paling bisa dimengerti tanpa harus diutarakan. Perasaan yang bisa diartikan tanpa harus dilafalkan.

Bagus. Sekarang aku sudah terlampau jauh. Tapi aku cuma mau tawa dan matamu, timbal balik dari degupku yang sekarang satu frekuensi dengan detak jantungmu.

Kesimpulannya, aku masih harus berkompetisi dengan sebuah gitar yang justru setiap hari tidur denganmu. Strategiku masih remeh. Payah. Rapuh. Lucu sekali efek persaingan antara jiwa yang hidup dengan benda tanpa nyawa namun justru punya kasta. Lalu menurutmu, siapa yang paling berhak menyemai rindu? Gitarmu? Atau aku?




You May Also Like

1 komentar