SURAT CINTA DAN RASI BINTANG

by - 18.16

sumber

Di luar sana hujan masih belum puas menampar kaca jendela. Gigiku bergemeretuk, jemari kakiku menekuk. Aku sedang berkutat dengan selembar perkamen kosong di atas meja. Benda berserat itu ditemani secangkir cappuccino dengan temperatur yang jika kusesap saat ini juga, bisa dipastikan lidahku akan mengalami sindrom mulut terbakar. 

Kubiarkan cairan nikmat itu sedikit menghangat, sembari mulai mencari diksi apa yang cocok agar perkamenku tidak telanjang lagi. Sempat terpikir untuk mengadopsi nuansa senja agar kalimat pembuka suratku tidak terlalu menggelikan. Niat itu kuurungkan. Senja bisa saja bertransformasi menjadi sangat feminin. Aku harus menemukan objek yang lebih maskulin. Setidaknya, dia yang membaca deretan aksara yang kurapal di atas kertas tidak tertawa atau menganggapku sebagai lelaki sinting.

Satu paragraf selesai dan isinya malah mirip dengan sebuah akta. Hei, ini surat cinta, harus berisi kata-kata puitis seperti pada roman kelas atas, bukan picisan cengeng dan....tunggu dulu. Mengapa tulisanku malah berakhir seperti anekdot murahan? Bukan begini caranya menyatakan perasaan. Bukan begini cara seorang manusia mencuri hati seseorang. Brengsek benar.

Terpaksa kucampakkan perkamen pertama dan menjebloskannya ke dalam tungku perapian. Maaf, tapi kalimat konyol akan membuat pembaca ingin muntah. Ini surat pertama yang akan kulayangkan pada seseorang . Aku tidak ingin dihantui kegagalan akibat salah meminjam kata-kata. Di saat seperti ini, seharusnya ada perangkat lunak penyedia aplikasi canggih bernama kecerdasan instan.

Perkamen kedua sudah siap kubantai. Setelah memikirkan matang-matang, kuputuskan untuk mengutip kata-kata melalui rasi bintang yang terhormat. Bagiku, rasi bintang terdengar lebih prestisius dan gahar. Lebih jantan dan bisa diandalkan. Lengkungan bibirku sontak melebar. Besok, surat yang berhasil kurangkai ini akan dikirimkan untuk dia yang jiwanya diinginkan jiwaku, untuk hatinya yang berhasil menerobos tanpa permisi ke dalam hatiku.

You May Also Like

10 komentar

  1. Apakah ini potongan sebuah draf tulisan yg lebih panjang??

    BalasHapus
  2. Wah hebat tau aja. Iya isi suratnya besok hehhe

    BalasHapus
  3. GILA KEREN! Ditunggu lanjutannya :))

    BalasHapus
  4. Gookkkiiiiil. Ditunggu dah post isi suratnya Penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia gue bingung isi suratnya apaan yak? ahahaha

      Hapus
  5. Lengkungan bibirmu ingin kuterobos

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba saja. Kau akan gagal.

      Hapus
    2. tak ada salahnya kumencoba kan? daripada aku terpatung seperti anekdot murahan

      Hapus
    3. Anekdot tidak akan pernah murahan. Mereka cuma kurang lucu

      Hapus