INFEKSI RINDU

by - 20.33

sumber

Rindu itu angkuh. Jelas-jelas hati yang dijangkiti, tapi kepala ikut-ikutan sakit. Lengar. Kronis. Kritis. Belum lagi jiwa dipaksa menyanggupi tugas untuk menjaga renjana agar tetap stabil. Bisa saja molekul arogan itu tidak betah lalu mengungsi ke tempat lain. Dampak terburuk yang ditimbulkan cukup kurang ajar. Ada dilema tersulit yang harus dihadapi. Membiarkan virus cinta itu makin menguasai atau melepaskannya hingga ia hilang dan tidak bisa dideteksi lagi.

Terinfeksi rindu, terinvasi gelisah yang menjalar ke seluruh pembuluh darah, dan memikirkan dia yang dibentengi jarak adalah beban tak termaafkan. Bagaimana bisa benda abstrak tersebut sanggup melemahkan sel-sel otakku tanpa bisa kupindai sebelumnya? Aku tidak tahu dari mana dia datang. Aku masih mencari jawaban mengapa rindu mengusik ketenangan yang susah payah kurangcang dengan teliti.

Sekali lagi, rindu adalah makhluk besar kepala. Setelah menembus jaringan nyawa, kesempatan untuk lolos sama kecilnya dengan menjinakkan rindu itu sendiri. Tidak ada alternatif lain selain bertahan. Tidak ada preferensi lain kecuali membiarkannya mondar-mandir dan berkeliaran seenaknya. Sial.

Terkontaminasi resah ternyata bisa separah ini. Terkuasai jengah ternyata bisa selemah ini. Lalu baru kusadari, bahwa ternyata sekarat untuk seseorang bisa sesakit ini. 







You May Also Like

22 komentar

  1. Keren,, lo bisa nggambarin apa yg gue rasakan selama ini ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuuuh rindumu terkekang ya? Ungkapin dong ungkapiiiin hahahhaa

      Hapus
  2. kadang rindu emang gitu, ngekampretin pikiran, hati juga. duh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi. Sial banget ya diperbudak rindu kyk gitu?

      Hapus
  3. Balasan
    1. Kagak ah ntar malah keracunan

      Hapus
    2. Hahaaha mamang-mamang penjual somay. Puas lu???

      Hapus
  4. rindu menjamah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meluluhlantakkan pertahanan

      Hapus
    2. luluhlantah karena terbakar, aku "membakarmu" setiap jengkal

      Hapus
    3. Aku terbakar dan sangat menikmatinya

      Hapus
    4. dari ujung kaki hingga ujung kepala, api ini tak hilang walau terbasuh keringatmu.

      Hapus
    5. Jiaaaah dua kali ni komennya

      Hapus
  5. dari ujung kaki hingga ujung kepala, api ini tak hilang walau terbasuh keringatmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dipadamkan. Biar dia berkobar. Biar rindu dilucuti sampai akar.

      Hapus
    2. aku sudah melucutimu, kamu wangi, ijinkan aku menghirupmu,

      Hapus
    3. Tidak boleeeeeeh hahahahaha

      Hapus
    4. melangkah pergi. apinya masih membara..

      Hapus
    5. Lah ini kagak dimatiin apinya bang?

      Hapus
    6. yuk matiin bareng

      Hapus