SPRING VS AUTUMN

by - 22.21


Gerimis, perkamen lapuk berisi kata-kata manis, rindu yang perlahan menggerogoti tulang dan suara lokomotif bising. Komposisi yang bagus untuk menikmati ekskursi seorang diri. Aku sedang berada di sebuah kereta api, tanpa siapa pun di sebelahku dan berpikir tentang esensi perbedaan. Perbedaan pada setiap cerita cinta yang dibawa masing-masing manusia.

Kupikir, persepsiku beberapa tahun lalu mengenai perbedaan sedikit meleset. Mungkin itu akibat efek semu dari jatuh cinta remaja pada dunia yang ingin dicipta sesuai keinginan. Aku ingin begini, begitu, tidak mau begini, tidak mau begitu. Ego menggembung dan tumbuh subur dengan akar negatif. Naif, juga sedikit bodoh. Tapi aku ngotot bahwa kualitas kebahagiaan hanya akan didapat dari persamaan.

Guess what? Persamaan tidak selalu asik. Jika dianalogikan pada algoritma untuk seseorang yang alergi kawan-kawannya matematika, kau akan paham apa maksudku. Bagiku itu juga hal rumit, serumit memahami mengapa cinta tidak dibuat dengan bahan-bahan sederhana saja biar manusia tidak bingung atau limbung.

Aku menginginkan seseorang dengan persamaan. Aku ketagihan membaca buku, melupakan waktu saat menulis, berpikir Claire de Lune adalah karya terbaik Debussy, menyukai fotografi, tidak terlalu sarkastis mengomentari film-film bodoh, agak defensif terhadap peraturan, payah soal partitur entah itu yang sulit atau mudah sekalipun, bukan perapi dan memiliki indikasi mengidap phobia jalan raya. Aku juga suka musim gugur. Gila. Seseorang yang bersamaku haruslah memiliki kriteria setara. Aku ingin dia yang memahami definisi raga jiwaku. Tapi itu dulu, sebelum aku tahu mengapa Tuhan mendesain  perbedaan dengan sangat rapi dan mengagumkan.

Ketika mendapatkan seseorang dengan karakter bertolak belakang, aku sempat protes. Aku memesan manusia yang punya paradigma sama terhadap peraturan atau opini serupa soal konden dan hujan. Aku mau dia yang selalu bisa membuatku terpingkal-pingkal. Aku mau dia yang bisa memanjakanku dengan prosa. Iya. aku mau dia. Dia saja.

Lama kelamaan, aku tertawa. Menertawakan kebodohan diri sendiri yang bisa-bisanya tenggelam dan berdebam di dasar fantasi. Suatu hari, aku bertemu seseorang. Aku mulai melihat dan memperhatikannya. Aku mulai bersamanya dan berbagi setiap emosi dengannya. Dia berbeda, dan aku justru menyadari betapa hebatnya kala duniaku berkenalan dengan dunianya. Aku belajar banyak tentang segala hal yang tidak kutahu. Aku mulai terbiasa dengan suasana baru yang ternyata di luar dugaan.

Aku jatuh hati, marah, sedih, tertawa, dan bahagia. Bersamanya, aku belajar untuk baik-baik saja. Melalui dia, aku bisa memandang dimensi baru yang selama ini tersembuyi. Bukan berarti dia tidak pernah membuatku menangis. Aku menangis, tapi dia mengajariku bagaimana cara berdiri lagi. Aku dan dia tidak sama. Dia lebih menghargai musim semi, musim yang jauh berbeda dengan yang kusukai. Iya. Kami berbeda. Dan kurasa...aku mulai menyukainya. Tidak selalu sama itu menyenangkan, bukan?


You May Also Like

4 komentar

  1. Maniiiiiis banget mbak tulisannya :' hihihi ampun deh kamu nih mbak :))

    Nggak selalu sama memang menyenangkan mbak :' kalau sama terus, bosenin ah :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Kalo sama mulu, bosenin hahaa

      Hapus
  2. Blak-blakan dan jemawa adalah aroma tulisan yang saya tangkap setelah membaca beberapa pos. Kadang jenis tulisan seperti itu yang bikin pembaca ketagihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih banget nih komennya. Jd makin semangat nulisnya nih hehe

      Hapus