SISI GELAP RINDU

by - 17.40

Rinduku seperti infiltrasi hujan, di mana air yang jatuh dari langit meresap jauh ke dalam tanah. Renjanaku juga seperti itu. Ada di permukaan terdalam, di suatu tempat di mana nama seseorang tersimpan sangat rapi dan tidak bisa digantikan. Terkadang aku lupa kapan rindu itu pertama kali datang dan tidak bisa dilepaskan lagi.

Aku sudah terbiasa menikmati aroma wangi tubuhnya setiap kali duduk berdampingan. Indera-inderaku mulai beradaptasi dengan setiap sentuhan dan suaranya. Sial. Aku mulai mencintainya. Aku mulai membutuhkannya. Dan setiap hari sejak saat itu, aku merindukannya setengah mati.

Aku masih bingung. Bagaimana mekanisme rindu sampai bisa membuat seseorang bahagia sekaligus terluka dan sekarat? Bagaimana bisa jiwa sedikit demi sedikit rela diperbudak hanya dengan satu kata? Konyol. Menggelikan. Membiarkan otak dirasuki dengan kerelaan tanpa perlawanan. Memikirkan apa yang seharusnya ditanggapi biasa saja. Tapi rindu itu licik. Seenaknya menyelinap tanpa suara, merasa berhak mengambil alih nyawa dan seutuhnya hanya untuk dia.

Lucu, tapi juga menyenangkan saat merindu dan yang dituju juga berada pada orbit yang sama.  Sebagian orang bahagia, namun sisanya harus bertahan hidup hanya dengan rindu yang hanya separuh. Separuh miliknya disimpan, separuh lagi dikirim untuk dia yang dipuja. Kiriman itu tidak pernah sampai, hanya tergeletak di depan teras dan tidak pernah dipungut dan paling parah, tidak dikembalikan.

Rindu, bagi sebagian orang mungkin berbeda. Sensasi yang dihadirkannya, senyuman yang muncul setiap kali rasa itu mampir, luka yang ditinggalkan, nyeri yang hampir tidak pernah hilang, dan tertundanya pertemuan. Rindu akan semakin hebat, pintar, tapi juga menyiksa. Sebaik apapun rindu, dia memiliki sisi gelap yang tidak bisa dienyahkan. Jika memang rindu tidak pernah pekat, mengapa banyak yang menangis karena mempertahankannya?

You May Also Like

10 komentar

  1. Keren tulisannya...
    Beneran...

    BalasHapus
  2. Keren tulisannya...
    Beneran...

    BalasHapus
  3. Rindu, seperti suara yang merdu menjadikan ku tercandu dan hanya bisa diam membisu..

    Bagus tulisannya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah rindunya bikin ga berkutik ya? hihi nice.
      Oia makasih udah mampir ya mbak

      Hapus
    2. mampir juga dong di blog punyaku :)
      sinargerimisnanda.blogspot.com hehehh

      Hapus
  4. Rindu itu menyiksa, hanya ingin berpeluk manja dg orang yg dirindu, kalau saya rindu dengan anak :-)

    BalasHapus