JATUH

by - 22.45

Aku pernah jatuh. Terluka. Cedera. Beberapa file yang kutaruh di folder khusus bernama perasaan harus kuatur ulang. Ada yang salah. Semua yang kulakukan buntu di titik nol dan hanya mampu bertengger tanpa skor. Kupikir semua percuma. Jantungku, ritme nadiku, frekuensi napasku, semuanya berantakan.

Kubenamkan kepala di atas meja sebuah kedai kopi. Kedai dengan ornamen paling suram. Tentu saja semua tampak mengerikan karena otakku juga kelelahan. Kopi pesananku juga hampir dingin. Aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku takut benda itu terkontaminasi luka yang tengah kuhela. Rasanya, ingin kembali ke masa lalu dan menghapus beberapa hal yang kuharapkan tidak pernah ada.

Kau memandangiku, memandangi cangkir kopiku dan memasukkan beberapa sendok senyuman di sana. Cangkir itu mengepul lagi bersama aroma sedap yang tidak bisa kutolak untuk kedua kali. Hujan di luar sana juga belum berhenti. Aku suka hujan. Aku tidak keberatan rinainya mengecup ubun-ubun kepalaku. Kurasa, hujan bisa sangat kooperatif untuk diajak bicara.

Katamu, jatuh adalah pembelajaran paling ekslusif. Aku sempat marah. Bagaimana mungkin merasakan nyeri sampai hampir mati ada di kategori positif?
Kemudian, kau selalu melakukan hal yang bisa menenangkan degup abnormalku setiap kali nyawaku hampir jatuh lagi. Tubuh hangatmu memelukku lama..dan bibir itu menyentuh dahiku. Rasanya enak. Damai. Aku suka. Sangat suka.

"Semuanya akan baik-baik saja. Terus saja berjalan. Tapi bersamaku."

Lalu, apa aku harus jatuh lagi? Aku capek.

Kau bilang, mungkin beberapa kali lagi. Kusanggah bahwa  aku tidak mau kembali merasakan perih.

"Ada aku. Kau tahu? Kesedihan mungkin tidak sepenuhnya menyingkir jika kau bersamaku. Tapi kujamin, itu lebih baik dibandingkan kau menanggungnya sendirian. Bagaimana? Setuju?

Itu katamu.

Sekarang, memoriku di masa lalu masih bisa diputar setiap kali kuinginkan. Dan masih ada kamu di sebelahku dengan partitur Schubert dari tuts piano kesayangan. Aku sudah tahu bagaimana mengontrol rasa nyeri. Aku tidak takut jatuh lagi. Separah apapun cedera yang harus kuterima, sesakit apapun efeknya, kalimat-kalimat yang sering kau utarakan adalah obat.

Terima kasih karena masih terus menggenggam jemariku.
Terima kasih karena masih terus berjalan denganku.

Kita tidak harus berlari dan kehabisan energi. Berjalan saja dengan setiap hal yang datang dan pergi. Aku sudah belajar untuk berdiri lagi setelah jatuh berkali-kali. Setelahnya, aku bebas tertawa dan bersahabat dengan waktu. 

You May Also Like

10 komentar

  1. Balasan
    1. Makan mie goreng aja bang biar ga gahlau

      Hapus
    2. mie rasa sayang. hahaha, maen maen juga lah ke blog gue

      Hapus
  2. Jatuh sini aak bantuin bangun haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaha gih beliin betadin ajah

      Hapus
  3. Balasan
    1. Yaaah jangan sedih dong saaay. Inget siapa ni kok ampe sedih?

      Hapus