BUDAK MIMPI

by - 23.20


Indera-inderaku dituntut beradaptasi dengan labirin mimpi. Jalur berliku yang setiap hari berpindah. Bertransformasi. Rumit. Membuatku hilang akal sekaligus lunglai tanpa daya. Labirin seharusnya hanya berfungsi untuk memenjarakan Minotaur, bukan menyengsarakan akar-akar rindu yang memutus napas saat aku akhirnya terjaga dan waspada.

Jujur saja, aku belum berani jatuh hati pada mimpi. Rasio berujar bahwa mimpi punya kuasa untuk merekayasa imajinasi. Dia berbahaya, sedikit culas, menggoda, tapi akan tidak bisa ditolak. Sama seperti halnya tidak bisa menolak indera penciumanku saat feromon tubuh seseorang mampir dengan begitu lancang. 

Aku tidak bisa mengendalikan mimpi-mimpi yang datang. Otoritasku tidak sekuat Morfeus, Fobetor atau Fantasos. Mereka terlalu manipulatif sedangkan orbitku terbatas hanya sampai ketika kelopak mata terpejam dan tubuhku bersatu dengan atmosfir langit. Rasanya lumayan nyaman, kecuali pada bagian di mana aku harus bertekuk lutut pada visualisasi mimpi yang sedikit tidak menyenangkan.

Lagi-lagi, aku belum berani jatuh cinta pada mimpi. Dia memesona, mengikat jiwa-jiwa rapuh yang nyaris hilang untuk tetap dipeluk angan. Meski begitu, kurasa mimpi sebetulnya tidak harus diartikan sebagai ancaman. Dia memberi kesempatan setiap manusia sepertiku untuk menikmati apa yang mungkin tidak akan berkorelasi dengan dunia nyata. Dia ada di pihak maya, sisi niskala, tapi tetap menghormati fana.

Memang, aku adalah budak mimpi. Suatu hari nanti barangkali ada saatnya aku akan jatuh. Jatuh berdebam dengan kerelaan dan menyerahkan semuanya tanpa paksaan.

You May Also Like

8 komentar

  1. Kata katanya berat bgt. Bagus. Bikinan sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah sempetin baca ya. Iya bikinan sendiri hehehe

      Hapus
  2. pilihan kata-katanya mantep T.T
    thumbs up

    BalasHapus