KOPI, LARA DAN JARAK

by - 14.18


Secangkir kopi selalu dapat diandalkan ketika jarak antara hati dan lara terlalu dekat. Kepekatannya terkadang menyembunyikan bulir-bulir bening yang tidak sengaja jatuh. Demi secangkir kopi dan kekuatannya menyingkirkan senyap, petrichor setelah hujan bersedia datang lebih awal. Demi terenyahkannya keheningan antara dua jiwa, senja berpikir dua kali untuk pergi jika di sana ada secangkir kopi.

Dibandingkan kesenangan di titik tertinggi, secangkir kopi biasanya lebih memiliki peran sebagai sahabat yang menemani duka, kehilangan, kekecewaan dan rasa bersalah. Hanya sedikit saja yang meminta ditemani secangkir kopi ketika dia bahagia. Sebagian besar meminta belas kasihan secangkir kopi panas untuk menyembuhkan cedera akibat terlalu naif berbaik hati pada cinta.

Jarak terjauh didekatkan oleh kepulan aroma kopi. Jarak terdekat kadang terasa jauh akibat memori yang diunduh secangkir kopi. Bagi mereka yang terlunta ditelantarkan rindu, bagi siapa pun yang gila akibat ditikam cinta, bubuk hitam murni itu adalah kesempurnaan tanpa cacat. Dia mengerti makna sesak. Dia memahami sulitnya berdiri lagi tanpa penopang atau seseorang yang dulunya ada kini hilang dan tiada.

Secangkir kopi, rasa nyeri, langkah-langkah yang berlari kelelahan tapi juga tak bisa berhenti. Ketiganya terhubung erat dan saling memahami. Manusia tidak akan pernah bisa memiliki kearifan secangkir energi yang diseduh dengan begitu rapi tanpa ada kesalahan. Manusia tidak akan mampu mengungguli kemampuan secangkir kopi dalam menyabotase keheningan.

Aku menghormati secangkir kopi dengan titah-titah yang larut di dalam setiap molekulnya. Tanpa secangkir kopi, lara mungkin hanyalah seorang budak tak berdaya. Tanpa secangkir kopi, jarak mungkin hanya akan dilecehkan sebagai depa tanpa kata.

You May Also Like

0 komentar