LELAKI ADALAH SEBUAH PIANO

by - 21.41

Aku teringat Arima Kousei dan perasaan terdalamnya kepada sebuah piano. Kebetulan dia adalah karakter pianis yang nyawanya hidup lewat partitur di dalam setiap notasi. Iya. Menurutku, lelaki adalah sebuah piano. Tergantung bagaimana perempuan memainkan setiap tutsnya. Apa tujuannya, untuk siapa dia memainkan lagunya, dan bagaimana gaya ketika menuturkan perasaan lewat setiap bunyi yang dihasilkannya.

Menekan tuts piano lalu memaparkan sebuah lagu klasik tanpa kesalahan adalah syarat mutlak dalam suatu kompetisi musik. Tapi, beberapa orang mengartikan musik adalah kebebasan. Musik tidak diatur oleh peraturan. Musik yang terjulur dari denting piano adalah isi hati yang seharusnya disampaikan tanpa terhalang privasi. Begitu juga lelaki.

Lelaki, bagaimana cintanya terhadap perempuan dianalogikan sebagai pianis yang berusaha mencapai penonton tanpa terikat regulasi. Dia ingin cintanya bertransformasi menjadi sebuah pesan. Dia ingin perasaannya terwakili oleh bunyi piano tanpa menyinggung komposer manapun karena mendepak partiturnya secara acak dan asal-asalan. 
Bagiku lelaki...adalah piano yang bebas bermain tanpa tendensi.

Mungkin, perempuan harus mulai mempertimbangkan bahwa lelaki bisa saja disandingkan dengan sebuah piano. Semakin keras dan kencang menekan tutsnya, suara yang dihasilkan bertabrakan dengan sinkronisasi yang diinginkan. Tetapi ketika menyentuhnya dengan kelembutan namun bercampur ketegasan, bunyi yang muncul adalah keteraturan yang unik. Nada yang keluar akan sangat halus tapi kuat dan bertenaga.

Well, itu pilihan. Memperlakukan seseorang yang dicinta, ada yang menjadikan egoisme sebagai senjatanya. Tapi...ada juga yang memilih keserasian antara lembut dan kuat untuk menjadi pedoman dalam mencinta. 
Kau sendiri bagaimana? Analogi apa yang kau pegang saat mencintai dia yang ada di jiwa? Apa dia sebuah piano juga? Atau biola dengan bunyi dawainya yang sesekali tak terduga?


You May Also Like

0 komentar