ESENSI CINTA DAN KOPI PAHIT

by - 12.00

Mencinta adalah menikmati secangkir kopi pahit. Sudah tahu sama sekali tidak legit, sudah tahu gelap, sudah tahu buta pekat, tetap saja lidah ketagihan disambangi partikelnya. Ketika mencinta, tidak ada orang yang tidak ingin terbalaskan saat rasa itu hadir. Ketika mencintai, hanya pembohong ulung yang mengatakan bahwa dia tidak butuh timbal balik. Dasar penipu.

Mencinta dan dicinta adalah dua jalur berbeda dengan esensi yang sama. Manis jika hati yang merasakannya berada di satu frekuensi yang sama. Si pecinta mentransfer perasaannya, yang dicinta memberi dengan segala daya. Seimbang. Tapi jika hanya salah satu saja yang berusaha, yang satu lagi bisa-bisa kehabisan nyawa. Mati. Sia-sia.

Jika sudah begitu, sesap yang ada hanya selaras dengan kopi pahit yang teronggok di atas meja untuk waktu yang lama. Dingin. Basi. Kaku. Tidak punya nyali. Tersakiti.
Tapi tetap saja aneh. Manusia masih sanggup memikul beban mencinta tanpa balasan. Manusia masih rela diinjak sampai babak belur hanya gara-gara cinta tanpa pernyataan dari si dia. Cuih! Memalukan. Tapi mau bagaimana lagi? Opsi terakhir yang diambil jiwa hanya tersisa itu saja. Bertahan, meski cedera akibat luka di sekujur badan.

Ketika ditanya sampai kapan akan seperti itu, pecinta satu arah hanya bisa menggeleng. Mungkin sampai hatinya lumpuh didera si dia yang hanya memberi sepi, atau mungkin sampai detak jantungnya letih berlari lalu berhenti.

You May Also Like

16 komentar

  1. Stop! Mending cari yg lain hahaha
    Akhirnya kembalo juga ni orang.
    Yg di yaman moga baik2 aja ya hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kembali ke pelukan hehe alhamdulillaah

      Hapus
  2. Balasan
    1. Tapi tetep diminum. Hadeh.

      Hapus
    2. suer dah gue ga minum kalo yg pahit. bikim lidah ngilu cari gula ckckckckckc... ada yg doyan ya hahaha

      Hapus
    3. Malah ada penggemar tersendiri kipi pahit loh

      Hapus
  3. Balasan
    1. Bener mbak. Tau sendiri pahit tapi teteeep aja mau minum lagi

      Hapus
  4. Terkadang mencintai dan dicintai itu semacam pisau bermata dua, akan menyenangkan jika terbalaskan namun akan menyakitkan jika tak terbalas... pada akhirnya banyak orang mencari-cari orang yang mencintainya, sampai-sampai banyak yang tak menyadari bahwa dirinya itu layak untuk dicintai atau tidak?

    Seperti kata sedimen senja, pada akhirrnya kita akan mencari seseorang yang membuat kita berhenti mencari-cari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang dicari udah ketemu belum?

      Hapus
  5. Loh kok di posting ulang? -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kagak boleh? Blog blog gue hahahahha weeek

      Hapus
    2. ga gitu...
      maksud gw kok bisa posting ulang komen-komennya tetep nongol. gmana caranya? ajarin dong... hhe

      Hapus
    3. Di sebelah kanan kalo pas lagi nulis postingan di sebelah kanan cari kata JAdwal. Klik. Atur tanggalnya sob.

      Hapus