REVIEW BUKU: LOVELY HIGH SCHOOL BY YOANA DIANIKA

by - 10.41

"Masa sekolah selalu punya cerita cinta"

Judul buku: Lovely High School
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: 2015
Halaman: vi+310 hlm

Kalo ada yang nanya kapan terakhir kali gue baca buku dan buku itu habis dibaca beberapa jam aja, jawabannya adalah tadi malem. Gue emang tipe orang yang biasanya akan selalu membaca habis sebuah buku dalam satu hari atau beberapa jam entah bukunya tebel atau tipis. Kecuali kalo ukuran bukunya kayak The Lord of The Rings punya J.R.R. Tolkiens, gue ga berani baca 24 jam nonstop. Gue khawatir mata langsung jereng atau bintitan.

Hari ini gue mau ngulas sebuah light novel berjudul Lovely High School karya Yoana Dianika. For your information, gue ga ahli dalam mereview buku tapi sangat piawai memainkan alat musik gong dan memanipulasi permainan monopoli. Jadi review yang gue tulis ini ga bakalan terstruktur alias seenak udel. Oh ya, light novel itu bukan buku yang beratnya cuma 1 gram guys, tapi novel dengan bahasa ringan yang punya tambahan ilustrasi gambar bergaya manga. Oke. Manga. Udah bisa ditebak dong kayak apa? Tapi light novel berbeda dengan manga, di mana ilustrasi gambarnya hanya di beberapa bagian aja, ga di setiap halaman.

Lovely High School bercerita tentang lima siswi di sekolah Mirai Gakuen, sekolah dengan fasilitas wow bagi anak-anak keturunan Jepang yang ngendon di Surabaya. Mayu, Maki, Airin, Shizu dan Yuna punya kisah cinta yang beda-beda. Mayu yang pemalu, Shizu yang beken, Airin yang gigih, Yuna yang cool dan Maki yang bersemangat sama-sama berjuang untuk satu tujuan yaitu deket dengan orang yang bikin hati bergetar. Demi ngedapetin cinta orang-orang yang disukai, apa aja mereka jabanin dengan cara mereka sendiri agar berhasil ngungkapin isi hati.

Hmmm...oke. First, this book was too lovey dovey. Ibarat cendol kebanyakan gula. Bisa dibayangin rasanya, kan? Atau untuk yang agak defensif tapi penasaran sama kisah cinta anak-anak sekolah, bakal menganalogikan plot di buku ini sebagai cendol yang justru ga dikasih gula karena konfliknya ga terlalu bikin greget. Kisah cinta dalam light novel ini sebetulnya pas buat anak SMP yang baru aja dapet kutukan pubertas, atau anak SMU yang telat dateng bulan. Tapi buat anak kuliahan yang keranjingan menu-menu berat macem Inferno atau The Aleph-nya Cuelho, light novel ini agak kurang tepat. Narasi yang dibangun hampir ga memiliki analogi, metafora atau majas yang lain. Plotnya pun ga menghadirkan sesuatu yang baru dan mengejutkan jadi ga bikin otak mikir berat.Tapi untuk bacaan ringan pas nunggu antrian sembako, boleh juga.

Second, karakter-karakter di dalam light novel ini hampir semuanya datar, ga terlalu menonjol dan ga terlalu kuat. Ada hal yang bikin gue sedikit mengernyitkan dahi pas baca buku ini yaitu dialog antar cowok yang justru terlalu girly. Gue sampe bilang "Come on, cowok mana ada yang gaya ngobrolnya kayak begini...". 
Sedikit agak mengganggu juga. Why? Karena meski ada gambar ilustrasi yang mempresentasikan tokoh cowok, dialog feminim tentu aja ga cocok dan bikin geli. Gue mengindikasikan penulis kurang riset tentang gimana seharusnya seorang cowok ngobrol dengan cowok laen. Sekali lagi. Too girly.

Third, untuk tokoh cewek, gue menilai ada variasi yang lumayan soal kesukan setiap tokoh. Misalnya, Mayu yang jago menyulam dan merajut, Maki yang punya bakat di dunia broadcast, Airin yang oke di bidang fashion, Shizu yang sedikit sombong karena populer, dan Yuna yang cool dalam hal-hal tradisional Jepang. Tapi lagi-lagi gue terganggu dengan tokoh cowok yang sangat mainstream. Please. Anggota tim sepakbola? Murid pindahan? Kakak kelas? Ketua OSIS? Tadinya gue pikir ada gebrakan. Tapi okelah, cewek-cewek sekolahan emang gampang klepek-klepek sama spesifikasi cowok yang kayak gitu. Itu terserah penulisnya. Hanya saja, mungkin bisa lebih dibikin kompleks sehingga konflik atau konten yang biasa bisa lebih berwarna.

Fourth, meski banyak hal saat baca light novel ini yang bikin gue ngangkat satu kaki, eh...alis, setiap buku pasti punya kelebihan. Gue suka cara penulis detail dalam mengeksplorasi berbagai hal. Misalnya istilah-istilah dalam merajut dan menyulam serta penjelasannya, fashion lolita, juga istilah-istilah dalam bahasa Jepang yang juga didefiniskan secara rinci. Jadi nambah pengetahuan deh. Bahasa yang ringan dan lolos dari jebakan typo ga bikin mumet meski gue terpaksa nge-skip banyak halaman karena sedikit membosankan. Tapi salut untuk penulisnya. Nulis buku kan susah, ga semudah membalik martabak. Pake kaki.

Buku ini berpesan agar kita ga nyerah untuk mendapatkan cinta. Meski faktanya, cinta ga semanis apa yang dijabarkan di buku ini. But buat cewek-cewek yang lagi kesambet asmara, bisa dicoba cara-cara para siswi Mirai Gakuen ini dalam proses mendapatkan cinta. Well, dari skala 1-10, gue kasih angka 6. 
Buat lo para cewek yang suka cerita manis ala anak sekolahan, buku ini pas banget dibaca saat minum teh atau sebelum bobo. Bisa juga dibaca sambil berenang, kalo lo mau itu juga. Hehe.

Akhir kata, wassalam!

 







You May Also Like

1 komentar

  1. Mungkin pemilihan katanya sengaja dibikin sesantai mungkin biar target pembacanya, gak kebanyakan mengernyitkan kening buat memahami :D

    Btw, dialog cowok yang feminim gue jadi penasaran.. sefeminim apa sih :D

    BalasHapus