LELAKI RAKSI KOPI

by - 19.29

kedaimerahputih.com
Raksi adalah partikel dari kosakata wangi. Aku menyukai kopi seperti halnya tak bisa menolak pesona coklat yang meleleh lembut. Aku tidak terlalu preventif terhadap jingga di sebuah pantai, kabut di atas bukit, dedaunan kemerahan di atas tanah, juga hujan yang berisik. Tapi akan lebih menenangkan jika kopi hadir menemani. Aku juga menyukaimu, lelaki dengan secangkir kopi favorit yang sering sekali mampir di dalam mimpi. 

Kopi adalah stimulator cerdas yang gampang sekali membaurkan rindu hanya dengan menangkap kepulannya dengan indera. Secangkir kopi bisa mendatangkan banyak cerita cinta, entah itu yang isinya deretan kalimat bahagia atau carut-marut dikekang lara. Asapnya yang beraroma khas tidak pernah gagal menyingkirkan ego dua manusia. Selebihnya, kopi adalah intelegensi yang sukses mematahkan logika. Melalui dia, aku dan kamu bisa saling berbicara hanya dengan mata, juga sunggingan bibir meski sekejap saja.

Kamu sama seperti secangkir kopi. Ketika mengingatmu sebentar saja, kinerja fisikku terasa lebih gesit. Hormon epinefrinku terpacu lebih cepat. Sinyal-sinyal energiku pun termoderasi sangat rapi. Walaupun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa kamu memang penyebab utama tidurku terganggu. Tubuhku terjaga hanya untuk berpikir apa yang sedang kau lakukan di sana. Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tertawa. Juga, apa yang bisa kurapal agar renjana fokus terkirim hanya padamu saja.

Ngomong-ngomong, aku sudah menjadi cangkir kopimu. Aku sudah tahu bagaimana rasanya dipeluk disaat justru kau sedang kedinginan. Aku sudah tidak asing dengan suhu napasmu saat bercakap-cakap tentang kehidupan. Pun, aku sudah sangat akrab dengan sikap acuh tak acuhmu yang sesungguhnya penuh kamuflase. Kamu dan secangkir kopi memang sama. Pemalu, hangat, juga serupa renjana. 


You May Also Like

22 komentar

  1. Dan perempuan rinai hujan :)

    BalasHapus
  2. gw pengen ketemu suami lo,
    pengen ngeliat wajah pria paling perutung sedunia&berjabat tangan ngucapin selamat...karna udah memiliki salah satu anugrah terindah yg pernah allah swt. ciptakan di muka bumi ini..😄

    BalasHapus
  3. tulisan mu juga seperti kopi, membuat pikiran relax.
    mampir dong
    https://aksarasenandika.wordpress.com/2015/03/09/surat-kangen-haji-lulung-untuk-bang-foke/

    BalasHapus
  4. Keren. Dari kata 'Kopi' bisa explore ke banyak kata

    BalasHapus
  5. dan aku masih memegang gelas kopi yang bibirnya telah tipis bergantian kita kecupi. helah, curhat

    BalasHapus
  6. mantap neng.... itu kopinya peke gula apa ngga' neng?? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pake gula dikit hahhaa. Mana setoranmu hei

      Hapus
    2. lagi sibuk neng,, hahahahah

      Hapus
    3. Aseeek sibuk mencari jodoh ya?

      Hapus
    4. Tuh dari mukanya keliatan kebelet kawin hahahahaha

      Hapus
  7. Filosofis sekali kak tulisan tentang kopi-muu

    BalasHapus
  8. Ah baca tulisanmu tentang kopi jadi ingat sama buku filosofi kopi-nya dee :)) ah jadi inget lagi aroma kopi mocapot yang begitu empuk namun terasa pahit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kopi memang selalu istimewa ya...selalu punya cerita.

      Hapus