SURAT CINTA 3: MARS ITU KAMU

by - 19.13

Dear penghuni Mars yang menyebalkan...

Senja tadi menghadang. Katanya dia ingin dikagumi dulu sebelum berganti peran dengan bintang. Jadi maaf jika suratku sedikit terlalaikan. Kau tahu aku tidak pernah bisa membantah titah jingga, kan? Apalagi jika spektrumnya yang bertabrakan dengan pantulan air laut mengalami deformasi total. Tentu saja peringkatnya naik dari cemerlang menjadi superior. Mungkin jika kau ada di sini, ekspresimu yang minim reaksi setuju dengan penilaianku terhadap artefak langit yang satu itu.

Bertanya tentang kabarmu sudah basi, sepertinya. Intel-intelku melapor bahwa kau masih saja direpotkan oleh tumpukan makalah dan naskah anekdot satir dengan dialog mengerikan di sebuah bibliotek di pusat kota. Itu lumayan menakutkan, Bung. Berarti aku tak punya preferensi lain kecuali mengakui kekalahan entah untuk yang ke berapa kali. Menggelikan sekali mengetahui bahwa aku dipecundangi benda mati. Kacau.

Ini surat ketiga yang entah bisa kukategorikan berguna atau tidak. Lagipula kau tidak pernah repot-repot membacanya, bukan? Aku sih tidak terlalu peduli. Menulis surat dengan umpakan alinea agung tak bisa membuatmu bergeser dari ruang baca, apalagi jika yang kugurat di atas kertas hanya penggalan lelucon sembrono kelas rendah. 

Walau begitu aku tak bisa menyangkal satu hal.  Di tiap jengkal tubuhku ada jejakmu. Di garis bibirku ada aroma bibirmu. Tapi jangan besar kepala dulu. Mentang-mentang aku mencintaimu, seenaknya saja kau membiarkanku kesal sampai ubun-ubun hanya untuk mendapatkan kepastian bahwa kau baik-baik saja di sana. Apa kau tidak tahu bahwa menunggu adalah aktivitas paling menjemukan? Sesekali bergaullah dengan penduduk Bumi, agar kau tahu bagaimana cara menyikapi perempuanmu dan detail-detail perasaan di hatinya. Dasar warga negara Mars besar kepala. Tidak pernah sadar bahwa aku merindumu sampai di titik sakit dan sekarat.

Kalimatku kini buntu. Kusudahi saja dulu, ya? Surat ini akan sampai padamu beberapa menit lagi. Jika tak ingin baca, tidak apa-apa. Mungkin kau lebih beratensi untuk menyimpannya di laci. Sekali lagi, tidak apa-apa. Asal jangan kau buang atau kau pakai sembarangan sebagai pengganti bungkus gorengan. Aku tidak akan suka. Dan hei, Bung. Jangan lupa mengingatku, karena aku tidak pernah ingat untuk melupakanmu.

Senja Paris Van Java

Perempuan Bodoh




You May Also Like

2 komentar

  1. Semoga yang diluar sana segera memberi kabar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tauuuuu aja nih aku lagi nunggu kabar hahaa. Semoga.

      Hapus