SURAT CINTA 2: KOPI JENIUS

by - 02.24

Salam manis untukmu, penggemar matematika...

Aku sedang ingin mengadakan percakapan ringan mengenai kopi. Tadinya mau kuusulkan mendiskusikan matematika, algoritma, atau apapun itu yang bisa membuatku terlihat lebih konyol. Tapi setelah dipikir,  mempermalukan diri sendiri sedikit tidak elegan. Jadi keputusan jatuh pada kopi. 
Pernahkah kau menganalisa betapa jeniusnya secangkir kopi? Saat diseduh, dari luar cangkir terasa begitu panas, sepanas hasrat perempuan bodoh yang tergila-gila padamu. Ya seperti aku ini contohnya. Tapi jika dibiarkan sejenak, temperaturnya bermutasi jadi hangat. Aku suka fase ini. Dia tidak membuat lidahku cedera atau memaksaku mengumpat di luar batas kesopanan.

Ah, kau tidak mencandu kopi seperti aku memujanya. Kita ini jelas beda. Kau mengagungkan teh hijau sedangkan aku sudah begitu terpikat pada dedak hitam ajaib yang menimbulkan aroma sedap. Untungnya kita tidak tampak menggelikan akibat berdebat mana yang lebih punya kecerdasan rasa. Teh dengan kemegahan yang identik dengan sajak lembut, atau secangkir kopi dengan kesederhanaan absolut yang setali tiga uang dengan esensi teknik vokal suatu notasi.

Terkadang aku iri pada secangkir kopi. Kejeniusannya gampang memprovokasi seseorang untuk jatuh cinta pada pahit dan manisnya di waktu bersamaan. Coba saja aku ini kumpulan bubuk kopi yang meski terberai di awal tapi menyatu saat dipugar oleh zat cair. Buatku, membujukmu melirikku saja bikin pontang-panting. Aku mendadak panik. Gelagapan. Aku tidak bisa menyusup ke dalam pikiranmu lalu dengan entengnya menyimpan arsip tentangku di sana. Sama saja bunuh diri dengan hanya beberapa butir Zoloft. Percuma.

Kau pernah bicara cinta padaku di saat cangkir kopi yang kugenggam masih terasa hangat. Kau melafalkan kata-kata yang jauh melenceng dari kesan romantis atau mesra. Aku masih ingat betapa menjengkelkannya kau karena tak bisa sedikit bersikap lunak, setidaknya padaku. Ya sudah, aku bukan tipe pemaksa atau butuh dikasihani. Paling tidak, ada secangkir kopi yang masih sudi menemani. 

Sudah lewat pukul dua. Aku mengantuk. Jika ada waktu, mungkin kau tertarik membaca apa yang tersembunyi dari secangkir kopi yang kunilai jenius. Tapi jika tidak, fokus saja pada cangkir tehmu. Tidak terlalu berpengaruh juga buatku. Pastikan temperaturnya tidak melukai indera pengecapmu. Oke?

Dengan rindu hangat

Perempuan Bodoh

 


You May Also Like

6 komentar

  1. Astaga minuman ini membuatku tak sabar meminumnya berulang kali :)

    BalasHapus
  2. dan aku berhenti jd peminum kopi ketika tau efeknya yg ga begitu bagus untuk kulit :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bener mbak katanya bikin cepet keriput kalo berlebihan ya?

      Hapus