TITIK DIDIH RINDU

by - 21.16

Sorot lensa beralih dari kaca jendela kepada secarik perkamen polos. Aku sedang berusaha menulis surat bertema afeksi untuk kamu. Sesekali daguku ditopang telapak tangan, mendesah pelan akibat udara di luar sana cukup ekstrim. Kau tahu? Hujan deras datang lagi. Kali ini tidak hanya malam yang disambangi. Embun kini harus mengalah untuk tidak unjuk hadir beberapa hari. Efeknya lumayan juga. Kakiku serasa beku digerus gigil, kepalaku pening dihantam ingin. Ingin bertemu, juga merasakan napasmu.

Tinta hitamku mulai menggores tubuh kertas pelan-pelan. Kernyit dahiku mulai berpikir apa yang harus kuucap lewat alinea bersama ketenangan. Ada beberapa kalimat yang sangat ingin kusadur dari titik didih zat rindu setelah mengalami hal-hal aneh belakangan ini. Kau tahu? Temperatur renjana sedang tak stabil. Dia ingin dipuaskan. Dia ingin dipertemukan dengan seseorang yang mengusik keheningan, menjamah tekanan eksternal yang tadinya baik-baik saja menjadi ketidaksabaran di strata abnormal.

Relasi atau hubungan antara aku dan kamu, juga rindu-rindu yang berkeliaran itu sama pekatnya dengan warna tinta yang kugunakan sekarang. Aku tidak paham mengapa bisa begitu gila jatuh cinta padamu. Aku mencoba menyelidiki definisi emosi yang begini merepotkan. Meski begitu aku tahu apa yang didetak hati adalah sesuatu yang positif. Tentu saja yang bisa mengerti adalah jantungku dan jantungmu. Jelas saja yang merasakan adalah jiwamu dan nyawaku.

Beberapa paragraf sudah selesai terangkai. Jika kau baca ini, mungkin akan sedikit menggelikan karena sedikit setara dengan jurnal picisan dan naskah pentas drama yang hanya akan ditonton segelintir orang. Tapi tak apa. Aku sungguh merindukan apa yang selalu kita lakukan. Bercerita tentang langit, mencemooh manusia-manusia minus peka, melantun doa-doa setiap waktu, juga menyingkirkan plakat-plakat kaku saat berbincang tentang rindu. Untukmu yang mengirimkan senyum setiap hari, aku menginginkan denganmu sebuah temu. Untukmu yang menitipkan jejak di bibirku, aku mencintaimu.

You May Also Like

10 komentar

  1. ejiyeeeee yg lagi kangen mah, bahasanya syahdu euy :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha rindu tingkat dewa niiii

      Hapus
  2. Balasan
    1. Aku yang nyusul suami ke luar negeri, mbak...jadi ni lagi sibuk ngurus visa

      Hapus
  3. rindu memang menyesakkan!!! tapi aku yakin rindumu terbalas sementara aku.... haha *malah curcol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bilang dong sama orangnya kalo lo kangen dia ahaha

      Hapus
  4. Aku menggelembungkan tubuhku. Mencoba rebah meluruskan penat yang kaku. Tapi percuma, surat afeksimu telah membiusku. Aku harus kembali menyelami palung sunyi di dalam benakku. Mencarimu lagi disana. Memastikan semuanya masih seperti satu menit yang lalu. Ketika kerlip matamu menggoda, mendentingkan pranala indah yang berbunyi cinta. Aku bahagia. Mencintaimu. Kuyakinkan padamu, aku akan selalu kembali ke palung yang sama. Setiap menit, setiap detik. Memastikan semuanya baik-baik saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus bangeet tapi kenapa pake kata menggelembungkan hahahaha lucuuu

      Hapus
  5. Nah, di konteks sastra, menggelembungkan itu kira-kira hampir sama seperti ulat bulu yang sedang berjalan. Doi menggelembungkan tubuhnya ke depan, biar bisa bergerak. Hehehehe. Titik awal sebuah paragraf, kalau udah menggoda lucu begitu, pasti sampe habis bakalan disimak. Ya kan, ya kan, ya kaaan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uh percaya diri sekali kau ini bung!! Iya sih hahaha

      Hapus