SALUR SAJAK

by - 19.38

Salur gerimis masih setia membasahi tanah. Ruangan dingin senja jingga juga masih bertamu untuk mengusir lelah.
Kita duduk berhadapan dengan dua cangkir coklat panas di atas meja. Prototype puisi yang kau rancang sudah selesai. Kutelusuri baik-baik setiap tangkai hurufnya, kuhirup aromanya yang kentara. Beberapa anyaman sinonimnya begitu manis. Ada tawa, saduran kisah dua sandi yang hanya dimengerti masing-masing hati, juga garis-garis rima yang rumit tetapi unik.

Gurat senyumanmu masih bersembunyi. Hanya mata itu saja yang sesekali menangkap tatapanku yang memang sengaja melihatmu. Aku meraih secarik perkamen yang kau tulis dengan tinta hati dan mulai membaca satu-persatu sulaman yang kau desain dengan hati-hati.
Aku suka puisimu. Terkadang senyap memang lebih jinak dari keriuhan, terkadang lelap mimpi lebih berpola dibandingkan percakapan pijar kunang-kunang.

Apa yang tak terkatakan waktu di saat malam menjelang adalah rahasia termanis. Bagaimana suara pepohonan saat kejora berkejaran adalah mimpi terindah. Ada yang dapat mengetahui apa maknanya, namun ada pula yang membiarkannya tetap tertutupi.
Cinta tak harus selalu bersuara. Ada beberapa kesenyapan yang justru mengalun sangat indah hanya dengan menatap mata sang pujangga.


You May Also Like

0 komentar