PARAGRAF SENYAP

by - 19.34

Di tempat ini, titik dan koma berbicara tentang analogi. Di tempat ini pula, aksara bebas menyulam konotasi, ideograf dan juga antonim yang berparas serupa namun tak berjangka. Pada skema tempat garis-garis perasaan yang tengah mengorbit, ada kata-kata manis berperan sebagai penenang tiap kali keadaan mulai mendekati batas kronis.

Kemudian satu persatu hilang, membias lalu pergi entah kemana. Paragraf menjadi rancu dan berdiri di atas alas hening tanpa riuh. Mau tak mau tetap membentuk padanan pijar dan terang meski harus bernyanyi tanpa petikan gitar. Dia kebingungan, lalu suatu hari menemukan jawaban bahwa cerita-cerita inferior sedang naik daun dan tidak ingin digeser sebagai kisah suci tanpa noda.

Seperti hati yang setiap hari teduh karena banyaknya teman setia, kini sepi tanpa suara saat satu persatu penghuninya memutuskan untuk berlalu. Ada yang berpamitan, ada pula yang diam-diam menyelinap keluar dan tempat itu kini menjadi kosong. Tapi tetap saja manusia setia rajin menjenguk paragraf agar memahami apa arti tegar tanpa harus jatuh.

Paragraf tersentuh melankolia karena tak dapat berdiri sempurna. Jajaran ayat-ayat mengeluh kepada lembar halaman buku yang menjadi satu-satunya pilar penjaga. Katanya, tak apa serdadu koma dan titik pergi. Pembaca yang memahami akan dapat memaklumi mengapa tak ada mereka dalam alinea meskipun akan terjadi kebingungan dan mendatangkan tanda tanya.

Paragraf mulai belajar untuk berjalan tanpa titik ataupun koma. Paragraf belajar bagaimana mengasihani sabda-sabda pongah justru ketika manuskrip faktual dan etis bisa ditelaah. Baginya, buku yang melindunginya tetap ada adalah yang terpenting. Dia akan terus mengurai kalimat, bermain dengan cakap, juga mengalunkan kecantikan suara lewat rentetan ranting dedalu kata.

You May Also Like

0 komentar