PALKA MUSIK

by - 20.59

Dawai tas pinggangku tercangklong di bahu kanan. Kudongakkan kepala dan memandangi gedung dengan arsitektur klasik di depanku berbarengan dengan udara yang kuhela. Musim dingin masih memaksa tubuhku dibalut mantel dan kekasihnya, si sarung tangan tebal berwarna gelap. Satu kawasan di otakku tersambung dengan prakarsa. Satu reminisensi mengenai danau salju yang tak mengizinkanku menapaki lantai licinnya lagi. Danau itu masih tersimpan rapi di ingatan, hanya saja arsipnya kututup rapat dan kulabeli sebagai benda yang takkan dibuka kembali.

Langkah tersalur menaiki anak-anak tangga yang tak seberapa tinggi. Selintas tempat yang akan kujelajahi setiap sentinya ini identik dengan mimpi. Sebuah katedral yang disulap menjadi sebuah universitas kurasa sesuatu yang hebat. Sepertinya aku akan betah dan menganggap depa jengkalnya sebagai rumah kedua. Setidaknya premonisiku berkata bahwa akan banyak memori di sini yang bisa kumiliki.

Ada banyak fundamen sedikit angkuh dan koridor panjang di gedung kampus baruku ini. Selintas seperti zona luas bergaya Helenistik Yunani kuno yang agung dan megah. Sayup-sayup angin dingin menyelinap di sela-sela rambut, menyeretku untuk memasuki satu palka atau ruangan terdekat. Dengan begitu gigil tak terlalu berhasrat meminjam kehangatan yang masih tertinggal di tubuhku.

Pintu ruangan ini lumayan tinggi, sepertinya terbuat dari mahoni atau sejenisnya yang kutahu sangat cocok dan awet untuk dibentuk menjadi kusen. Aku terkesiap saat menyadari bahwa palka yang kumasuki adalah ruang musik dengan instrumen-instrumen yang berjejer rapi. Ada piano, biola, cello, gitar, triangle dan masih banyak lagi. Sebelum kudekati, beberapa orang masuk dan langsung tersenyum padaku. Salah satunya adalah kamu.

Setelah hari itu, aku berhasil melupakan danau salju dan para peseluncur es yang ada di sana. Kutemukan tempat baru yang jauh lebih baik. Satu tema yaitu musik yang punya notasi dan aliran istimewa. Meski karakter manusia di palka ini berbeda namun setiap hati memiliki perangkat musik sendiri-sendiri. Mereka tak saling bersaing namun justru menyeimbangkan satu sama lain. Salah satu pemain musiknya bertambah, yaitu aku...dengan kamu sebagai penyembuh. 

Kamu benar. Masih ada tempat lain secantik danau salju yang pernah kutemukan waktu itu, malah jauh lebih indah dan aroma defensif tak lagi tercium. Lagipula, danau salju hanya berisi orang-orang dengan satu obsesi kotor yang sama, saling mendepak dan tak peduli jika menyakiti. Tapi palka musik ini sungguh unik. Ada jiwa manis di sini. Ada alunan melodi yang punya hati di sini, seperti yang kubutuhkan tanpa harus memupuk keji.

You May Also Like

12 komentar

  1. sampe gak tau ini mau komentar apa ahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaah dasar lo. Makasih yaaa...eh gue komen di postingan lo Neng Singkong hahaha

      Hapus
    2. iyee udah gue bales dari kapan keleeus wkwkw

      Hapus
    3. Neng Singkong hahahahaha gokil dah.

      Hapus
  2. bahasanya berat banget -__-
    apa itu tercangklong, kudongkan, fundamen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaah haha itu loh nyangklongin tali tas di bahu. kudongakkan dari kata dongak, mendongak artinya menatap ke atas...

      Hapus
  3. hadeh terlalu dibuat berat padahal enteng. -,-"
    Semangat aja deh semoga lebih bagus post berikutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wew padahal bahasanya sering digunain banyaj orang loh...cuma beberapa kata aja yang aku gunain diksi yg jarang dipake. Biasanya yg anggap berat jarang baca buku sastra. Hihihi

      Hapus
  4. Hai Agia! :D

    Aku selalu suka dengan metafora yang kamu buat. Aku menikmati setiap tulisanmu.

    Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)

    Semangat menulis! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya udah sempetin baca...

      Hapus
  5. Bahasanya anak sastra banget hahaha

    Blogwalking : http://www.firstanrude.com

    BalasHapus
  6. Padahal bukan anak sastra...dan ga tau sastra itu sebenernya apa

    BalasHapus