OTAK KOSONG

by - 19.37

Otak kosongku belum terisi nutrisi sejak pagi. Padahal di luar sana alinea baru memberi petunjuk dengan meninggalkan jejak spasi. Saat ini aku ditemani pemandangan taman dengan faset-faset yang lumayan menenangkan penglihatan. Kursi yang kududuki di sini terbuat dari besi, kira-kira berdepa satu setengah meter dan dicat putih. Lalu di atas pangkuan, beberapa lembar perkamen siap untuk disetubuhi oleh mata pena yang siap kuperintah kapan saja. Sayang, pikiranku entah sedang berselancar ke mana. Dia belum kembali, jadi yang kulakukan adalah melamun sambil mengamati orang-orang yang lewat.

Banyak menu yang seharusnya bisa kuolah pagi ini. Lipatan-lipatan awan di langit menggenggam kisah mereka masing-masing, berubah bentuk namun sebenarnya hanya memanipulasi agar bertransformasi menjadi cipta yang lebih baik dan tangguh. Hujan juga masih sering mendatangi dengan tugasnya yang khas, yaitu mengantarkan rindu dari seberang sana. Gila, itu sedikit membuatku oleng. Berbulan-bulan rindu itu dikirim dan dibalas tetapi masih sebatas kertas.

Siang menggantikan peran pagi. Cahaya juga digantikan pekat bernaung mendung. Apa kubilang, hujan pasti datang lagi dan aku akan pulang dengan keadaan basah kuyup seperti kemarin, minggu lalu dan tempo hari. Bukan masalah seandainya perkamenku sudah penuh. Kupaksa logika berpacu sebelum rintik turun, kudesak sistem-sistem syarafku berpikir bagaimana cara mengunggah perasaan ke dalam sebuah objek yang bisa dilihat dan dianalisa sebelum rinai berkunjung.

Cerita bergulir mampir tepat saat senja ditransfer langit untuk menemaniku yang tengah duduk sendirian. Bagus, fase paling romantis yang selalu diagungkan nirwana itu membawa senampan narasi, diksi, metafora dan kenangan untuk kurangkai menjadi bahasa. Senja salah satu makhluk yang baik. Dengan adanya dia berdiri di hadapanku, sulaman kata per kata bisa kucatat dengan lancar tanpa hambatan. Ah, untunglah senja menyelamatkan otak kosongku hari ini. Besok-besok kuminta dia datang lagi, kembali mengantar otakku yang kerap kali berkeliaran. Mungkin jika begitu, setiap cerita akan tertulis tanpa harus menunggu waktu berganti atau bermutasi.

You May Also Like

10 komentar

  1. woooh bahasamu dewa sekali anak muda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh hahaha akibat ga ada inspirasi jadi begitu dah...bingung mau nulis apa tadinya

      Hapus
  2. keren banget kata katanya , kayaknya cocok jadi penulis novel nih :D , hahahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha wah aamiii....makasih ya kawan

      Hapus
  3. Balasan
    1. Aaaa jadi malu. Makasih...masih harus banyak belajar...hiks

      Hapus
    2. Cemmaneu sy itu mah , byk belajar haha

      Hapus
    3. Hahahaha saya juga tauuuu

      Hapus
  4. Jos sekali :D bahasanya berirama seperti nada dalam musik klasik yang asyik kalau di dengarkan sambil ngopi dan mainkan musik sambil mengunggu senja tiba langit terus menghitam gelap gemerlap bintang di mana -mana tanda malam tiba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya...seneng kl tulisannya menghibur...

      Hapus