MALAM PERTAMA JANUARI-KU

by - 11.48

Hujan dan malam tadi kujadikan alas plakat rindu yang masih terpasang tanpa bergeser dari tempatnya semula. Malam pertama Januari-ku masih punya depa dengan kamu. Meski begitu, cacahan jarak sedikit mengabur, pantulan dari optimisme doa-doa yang kupasang di setiap sudut aksara yang merangkaikan namamu. Jika saja tadi malam langit absen melukis hujan, barangkali dinginku sedikit tertutupi puisi dua kubu. Sayangnya hujan turun deras dan aku meringkuk dengan lembar-lembar fiksi afeksi.

Malam pertama dibincangkan dengan bebas lewat prakata yang seharusnya minim senyap atau dicemari lirik-lirik lagu picisan. Masih ingat malam pertama ketika kita melongok kalkulasi bintang yang justru tak dapat dihitung dari atap rumah? Katamu ada desain seni di sana, di mana kita tidak lagi peduli terhadap angka-angka yang menguraikan apa makna kuantitas. Katamu, kualitas perasaan jauh lebih substansial, lebih krusial dan tidak boleh dicampuri sesal.

Aku masih ingat ceritamu tentang rindu. Dia adalah tema penting yang selalu kita umpamakan dalam berbagai bentuk. Buku-buku cinta, lagu-lagu dengan distorsi melodi menarik, kanvas dengan guratan warna eksotis, juga cangkir kopi penghilang penat yang sama sekali tidak boleh dilewatkan. Apalagi malam pertama di bulan pertama. Akan ada kejutan menyenangkan saat kita masih setia. Akan ada jawaban dari harapan yang kita lirihkan jika kita masih bersedia bertukar perasaan.

Malam pertama Januari-ku masih tanpa kamu, masih tanpa dekapan dan suara penenangku dari mimpi-mimpi yang tak nyaman. Dosis rindu ditambah kalau begitu. Aku masih butuh otoritas, dominasi dan energi terkualifikasi agar mampu mengatasi pasukan renjana yang pastinya menggangguku setiap waktu. Lalu, bagaimana kapasitas rindumu di sana? Masih selalu bertambah seperti yang kau utarakan di Desember terakhir kemarin? Kalau begitu kita tak berbeda. Kuota rinduku juga meningkat. Pemiliknya tetap sama. Kamu saja.

You May Also Like

4 komentar

  1. Malam pertama Januariku masih dengan luka yang menganga. Begitu sulit tampaknya mendapat sebuah kabar dari yang dicinta.
    Malam pertama Januariku menyisakan perih di antara. Karenanya, aku kembali kecewa.


    *yah malah curhat akunya* :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. AHahaha walaaah iya ya nunggu kabar itu emang bikin pusing. Aku berkomunikasi sama suami cuma bisa satu jam per hari, sis...huuks dah #Malah curcol juga

      Hapus
  2. Balasan
    1. Hahahah jangan ngeres duluuu oiii

      Hapus