LOLIPOP RASA RINDU

by - 01.58

Aku sangat lihai memproduksi permen dengan rasa spesifik yang dihasilkan oleh perasaan. Tapi yang paling laris justru lolipop rasa rindu. Dia telak mengalahkan pastiles rasa harapan, permen dengan perisa kesenangan juga beberapa produk lainnya yang kujual. Lolipop rasa rindu tentu saja punya tujuan khusus yaitu menghadirkan perasaan merindukan seseorang. Kandungan dominan yang kupakai adalah bubuk dopamin, sedikit endorfin juga mantra khusus sebagai pelengkap.

Siapapun yang menikmati lolipop ini akan diantar pada sensasi menjaring renjana pada satu nama yang paling dinanti. Benda dengan aneka bentuk lucu dan warna yang mencolok ini tak kuduga akan memiliki penggemar setia. Mereka selaau datang dan memborong stok yang ada. Aku sendiri kewalahan menerima pesanan yang tak kunjung surut.

Ironis. Aku, peracik lolipop rindu yang terkenal ini justru tak pernah ingin merasakan lagi kelembutan tekstur rasanya yang manis di lidahku. Ada kegamangan yang menggelayut, memaksaku mengingat apa yang tak ingin kuingat. Pernah mencicipi, merindu, lalu mengungkapkan tetapi tidak berbalas sungguh menyebalkan. Tenang saja, itu bukan sergahan atau alibi untuk luka. Aku sudah kebal. Satu yang pasti, aku tak mau mencicipinya lagi. Setiap kali proyeksi memori muncul, yang paling tertera jelas adalah percakapan itu. Percakapan super konyol dan tidak jelas.

"Aku sangat merindukanmu," kataku.

"Iya..."

Dahiku berkerut,"Cuma itu? Kau tidak bisa setidaknya mengatakan kalimat yang punya tingkatan setara?"

"Kau ini cerewet!" raungmu.

"Lenturkan lidahmu sesekali. Kau bilang cinta aku, tapi mengucapkan rindu saja susah setengah mati."

"Aku tidak punya waktu untuk drama sentimen," katamu.

Drama sentimen, katanya. Cibiran yang sanggup membuatku gusar pada produk yang kubuat dengan tanganku sendiri. Seandainya tak kucicipi, mungkin lisanku yang brengsek ini tidak harus terpeleset dan mempermalukan diri sendiri. Alih-alih mendapatkan esensi yang sama, aku malah mendapat glosarium baru untuk nama lain dari rindu. Dan itu sedikit kejam. Rindu sama sekali bukan benda picisan meski sedikit beraroma drama. Rindu itu suci, karena hanya nama tertentu saja yang berhak mendapatkan ekstraksi perasaan di dalamnya. Tapi aku lupa, bahwa hal itu sama sekali tak berlaku justru pada kisah cintaku sendiri. Benar-benar payah.

Bahuku yang tadi tegang sedikit mengendur. Kuputuskan unyuk sejenak tidak berurusan dengan rindu. Kuputuskan untuk menjadi netral, biar tidak ditempeleng lagi oleh ulasan menohok yang hanya bikin darahku naik. Tapi konsumenku tetap harus kupuaskan. Bukankah orang lain juga punya wewenang untuk menghangatkan diri dengan rindu meski sedikit usang atau samar? 


You May Also Like

14 komentar

  1. kadang kesal juga sama rindu,menggebu2 gitu,kadang heheeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah menggebu-gebu eeeh dibalesnya cuek. Makin kesel tuh heheh

      Hapus
  2. rindu yangtak terbalas pasti akan menghadirkan kekesalan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. Dongkol gitu rasanya tapi ga bisa marah

      Hapus
  3. Caranya rindu sama orang gimana ? :( Gue jarang banget ngerinduin orang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah beruntung banget sebenernya...krn kadang merindukan seseorang itu menyakitkan loh

      Hapus
  4. cie curhat :))
    pasti lagi rindu sama yang di yaman..

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Pengen merindu apa pengen permennya????

      Hapus
  6. rindu..mengapa rindu.. tiada tertahaaan~ *eh maaf kok jadi nyanyi
    tapi walaupun di tanggepin cuek gitu pasti ada rasa gemes yg bikin seneng kan kak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah gemes kesel bukan seneng hehehe...agak sedih juga sih

      Hapus
  7. Obat rindu itu cuma satu, cuma ketemu sama pembikin rindu B)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sementara ini ga mau merindu dulu, soalnya menyakitkan hahaahaha

      Hapus