KITA, CINTA DAN PERBEDAAN

by - 19.19

Apa yang bisa diketahui gadis usia awal dua puluhan sepertiku mengenai cinta? Tidak ada. Kecuali bertumpuk-tumpuk kertas hutang bertuliskan rindu yang sudah jatuh tempo. Itu membuatku pusing setengah mati. Meja kerjaku sudah berantakan dengan benda-benda kiriman Cupid bodoh itu. Aku bingung bagaimana menuntaskannya sekaligus, bukan satu persatu. Pilihan terakhirku hanyalah melamun, lalu berharap seseorang menyelesaikan apa yang kumulai tanpa menimbulkan keributan. Dan seseorang itu kuharap adalah kamu.

Sesekali kubaca buku sastra tentang cinta, mendiskusikannya denganmu lalu kau hanya melongo. Masalahnya otakmu lebih terkoneksi pada fisika yang sama sekali tak bekerja pada logikaku. Kesimpulannya, kita berbeda.

Kita dan cinta. Aku tidak paham bagaimana mekanisme cinta. Anehnya cinta tetap berkorve dan memiliki predikat tak terkucilkan. Sementara sebagai inisiator, cinta membuat pemikiranku keruh dan jernih pada saat bersamaan. Pencarianku mengenai mengapa cinta bisa merekat sedangkan karakter-karakter yang menjadi simpulnya berlawanan tetap belum kujumpai. Tentu saja aku tahu bahwa setiap orang berbeda pola dan paradigma, juga berbeda ideologi dalam memperlakukannya.

Aku romantis, menyanjung cinta dengan meminjam istilah sastra superior, unggul, transenden dan berkelas. Sedangkan kamu, menganggap cinta layak diperlakukan sebagai kata kerja dalam olahraga. Strategi, teknik, lalu berkeringat dan terjadilah interaksi antara filosofi digit dan pemecahan masalah secara sederhana di dalamnya. Iya. Kau begitu simple sedangkan aku rumit seperti benang kusut yang susah diuraikan menjadi rapi. Anehnya apa yang berbeda justru mendeteksi reka cipta yang segar dan baru. Aku memaklumi mengapa kau begitu tak ingin pusing memikirkan cinta. Bagimu, lakukan saja dan semua akan beres. Kau pun memaklumi bagaimana reaksi berlebihanku terhadap kata rindu yang lupa kau ucap padahal kuinginkan terdengar setiap waktu.

Mungkin cinta memang dirangcang seperti itu. Tanpa perbedaan, semuanya jatuh di titik standar. Tanpa perbedaan, mungkin aku dan kamu tidak perlu susah payah untuk saling memahami satu sama lain. Dan tanpa perbedaan, mungkin kita tidak akan rela repot mempertahankannya dengan cara-cara unik dan kreatif yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku lumrah mengenai cinta. Aku juga tidak keberatan soal perbedaan. Tapi pastinya, aku lebih suka kita yang beda tetapi punya cinta yang sama.

You May Also Like

14 komentar

  1. Khanmaen tulisannya. Otak awak tak sanggup untuk mencerna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha dikunyah dulu dijeeeh jangan bulet-bulet gitu ditelen. Balapan sama jakun elo noh

      Hapus
  2. setuju, perbedaan adalah keseimbangan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sama, malah monoton ya

      Hapus
    2. Emang sih, kalo beda itu harus lebih ekstra adaptasinya dan ga gampang juga. Tapi kalo dipikir ya saling melengkapi gitu

      Hapus
  3. kita berbeda tapi punya cinta yang sama. kalo gak beda artinya satu jenis. hahaha gue geliiiiii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan mulai dah sarap ahahaaa gue juga geliiii ampe guling-guling ahaa

      Hapus
  4. Pengennya sih kayak gitu, tapi takdir berkata lain :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya pas di twitter kok pas banget sama postingan ini. Kalo sama sama keras kepala...pecah yang ada

      Hapus
  5. mantap... di tunggu tulisan lanjutanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih ya...udah sempetin baca dan komentar. Moga bisa lebih baik lagi ni nulisnya...

      Hapus