DANAU SALJU

by - 17.10

Musim dingin menjeru. Memaksa tubuh meminta patronasi total dari sebuah mantel tebal, syal, juga sarung tangan tanpa warna mencolok. Sesuai dengan periode yang isinya hanya terdiri dari arus udara atau siklon, atmosfir musim ini hanya berupa jalanan hening yang diselaputi salju dan trotoar tertutupi lengang. Sebagian orang menganggap musim dingin agak bengis. Bagiku tidak. Dia sama indahnya dengan musim semi namun harus dipantau dari sudut pandang yang berbeda. Saat komponen es berbaur, banyak hal menarik dirakit alam. Salah satunya adalah danau yang membeku, tempat baru untuk belajar mencintai gigil.

Hampir setiap hari di musim dingin aku selalu menyempatkan diri mendatangi danau beku yang digunakan orang-orang untuk bermain ice skating itu. Letaknya tidak jauh dari rumah namun untuk menuju ke sana, tubuhku terpaksa melintasi area senyap yang tak banyak dilewati. Aku termasuk pengunjung baru di sana. Sedikit canggung karena yang kukenal hanya beberapa. Aku menyukai danau salju itu. Di sekelilingnya terdapat banyak pohon pinus yang menggigil berpayung es. Kupikir itu aksesori yang tepat agar molekul dedaunannya tak terlalu tampak pucat.

Hari ini, dengan earphone di telinga dan sepatu seluncur di tangan kiri, wajah riangku merepresentasikan antusiasme yang akan kudapat saat nanti berseluncur di atas danau salju. Siulanku terdengar pelan meski iklim sedang agak jengah. Tiba-tiba langkahku didesak untuk berhenti. Jalan menuju danau itu terhalang tembok batu bata dengan tinggi hampir dua meter. Sejak kapan benda ini berdiri? Dua hari yang lalu tidak ada. Dahiku lalu berkerut membaca palang dengan tulisan bahwa manusia bermata hijau dilarang masuk. Hanya mereka dengan mata coklat terang yang berhak menjejak lantai dingin danau tersebut.

Ada cekat dan nanar terasa. Saat berbalik hendak pulang, kudapati kau sudah berdiri di belakangku dengan senyum yang seperti biasa. Menenangkan. Aku mengeluh tentang tembok itu. Mata hijau hanyalah indera, sedangkan jiwaku sama sekali belum dikenali lebih jauh. Tapi katamu aku tak perlu kecewa. Waktu yang akan membereskan dan menjawab semuanya. Kuhela napas lega dan menyetujui pernyataanmu bahwa danau cantik tidak hanya terdapat di tempat itu. Masih ada danau salju lain yang lebih hangat dan impresif. Lagipula, tempat mana yang lebih baik jika saat ini tubuh dan jiwaku secara penuh memilikimu?



You May Also Like

12 komentar

  1. mata hijau kan bagus :D

    aniwey, good post (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya, kalo dia minoritas, pasti akan disishkan atau ga dipedulikan mas hehe. Makasih udah baca ya

      Hapus
  2. Kata-katanya sungguh memukau ... romantis sekali! Mbak sekarang sudah di Yaman, ya?

    BalasHapus
  3. Belum ni...visanya ribet bgt ternyata...padahal sudah sangat kangen suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dimudahkan jalan menuju ke sana.

      Hapus
    2. Aamiin makasih banyak yaaa

      Hapus
  4. hmmm , rindu suasana bersalju deh :( , pengen sih lihat salju turun lagi walaupun dingin tapi sangat mengagumkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah ngendon di negara bersalju ya? Di mana?

      Hapus
  5. sadis kalimatnya :) maknyus

    BalasHapus
  6. Hai Agia! :D

    It's a great pleasure to read your writing!

    Tulisan-tulisanmu bisa kubilang cukup profesional. Metafora yang kamu gunakan sangat menarik. Kaya-nya pilihan diksi dan kosa kata yang kamu miliki juga menunjukkan kalau kamu punya wawasan yang luas. Bahan bacaanmu pasti sangat bervariasi. :D

    Keep on writing! Kamu pasti bisa menerbitkan buku-bukumu berikutnya yang sangat hebat. :D

    Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)

    Semangat menulis! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaa....suatu kehormatan bisa dikomen sama Mimin. Jadi semangat ni. Kebetulan memang hobi baca, Min jadi kadang nyaman bgt bermain sama diksi. Makasih ya Min

      Hapus