BUKU CINTA TENTANG HATI

by - 00.07

Selain taman dengan danau sebagai dekorasi vistanya yang menyegarkan, tempat lain yang tak pernah gagal memprovokasiku untuk menjejakkan kaki adalah perpustakaan. Bibliotek penyimpan lektur-lektur berharga itu hampir setiap hari kukunjungi. Selalu ada banyak hal yang menarik di sana. Manuskrip kuno, buku-buku kontemporer, novel cengeng membosankan, catatan-catatan obsolet mengenai agama, salinan anekdot menggelikan juga naskah drama teranyar yang hanya masuk kriteria picisan.

Alasanku berada di tempat luas namun lebih sering lengang daripada ramai ini adalah mencari sebuah buku yang menelisik tentang hati yang berelevansi dengan perasaan. Biasa disebut afeksi dalam arti umum meski sebetulnya afeksi berarti cinta atau kasih sayang. Kuberitahu, aku punya hati dan perasaan, jadi sudah jelas harus kukenali dari berbagai sisi. Tidak hanya internal, tetapi juga eksternal. Aku belum paham mengapa hati menciptakan ekstraksi berupa emosi negatif dan positif. Kucoba menjawab apa yang didebatkan rasio mengenai dua hal itu. Mengapa tidak emosi positif saja yang diproduksi sebagai perasaan tunggal? Mengapa harus ada sesuatu yang berlawanan? Aku sungguh tidak mengerti.

Distrik-distrik di perpustakaan ini cukup beragam. Setelah mengelilingi rak-rak yang tingginya hampir dua meter, kutemukan satu buku dengan judul yang mengandung kata cinta dan menarik minatku. Buku itu lumayan tebal, ekuivalensinya menyamai ensiklopedia astronomi, bersampul coklat tua dengan judul yang terpampang jelas karena menggunakan huruf timbul. Setelah duduk manis, kubuka setiap lembarannya yang ternyata memang sangat impresif. Di situ tertulis bahwa manusia tak bisa menolak dua emosi yang bertolak belakang namun juga tarik menarik satu sama lain. Tidak bisa dicegah namun bisa dipilih mana yang menjadi dominasi jiwa. Segi positif, atau negatif?

Emosi positif tidak akan tegas dan tangguh jika tidak bisa mengalahkan emosi negatif. Sebaliknya, hal-hal destruktif harus ada untuk mengetahui kualitas jiwa seseorang. Bagaimana bisa unggul jika tak punya lawan? Itulah sebabnya dua emosi diciptakan agar hati belajar bagaimana mengolah perasaan dengan baik.

Kubaca buku itu dengan cermat dan sukses membuatku ketagihan. Ada beberapa paragraf yang menjelaskan mengenai cinta yang tidak biasa, yang lahir dari campuran dua abstraksi. Ini benar-benar buku yang bagus. Kurasa...aku akan meminjamnya untuk beberapa lama. Bukan hanya untuk mempelajari perasaan hatiku saja, tetapi juga milikmu. Bagaimana? Setuju?




You May Also Like

3 komentar

  1. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Buku di pikiranku sendiri, Pak...hehehega ada ide jadi ngalor ngidul bikin tulisan aneh kayak gini. Makasih udah mampir, Bapak...

    BalasHapus