THE CURSED BOOK

by - 19.35

Masa lalu dan kumpulan impresi yang tertulis di dalamnya bisa dianalogikan sebagai sebuah buku abadi yang seharusnya dimakamkan di perpustakaan personal. Buku yang tidak akan pernah dihinggapi usang namun memiliki kutukan. Kutukan yang menggoda pemilik awalnya membaca halaman per halama secara detail tanpa ada yang terlewatkan. Itu yang pernah kau bilang padaku. Kau, jiwa yang menganggapku sahabat yang layak mendengar bagaimana masa lalu membunuh sekaligus menghidupi nyawamu. 

Kugelengkan kepala tak habis pikir. Kurasa kutukan buku itu takkan membiarkanmu lepas. Kau terus saja terbujuk untuk membuka lembarannya meski rangkaian perasaan antara kau dan dia sudah tidak lagi paralel. Aku tidak pernah bisa mengerti hipotesamu terhadap seseorang yang pergi tapi bisa menjadi yang kau puja setiap hari. Aku tidak paham bagaimana kau sanggup melafalkan nama yang termazkur di dalam buku menakutkan itu tanpa ekspresi. Padahal kutahu ada yang remuk di dalam tubuhmu saat mengeja aksara-aksaranya dalam bunyi yang dibisukan. Tragis, sekaligus ironis.

Seharusnya buku masa lalu tersimpan rapi di rak distrik terlarang. Walaupun tidak akan mungkin dibuang karena akan selalu kembali dengan caranya sendiri, buku terkutuk itu tak boleh lagi dibawa dari tempatnya bersemayam. Tapi seseorang dengan penyakit rindu akut sepertimu tidak bisa mengelak untuk mengejanya. Entah sudah berapa banyak sayatan pada organ berdetak itu. Sudah tahu akan perih namun bertahan. Satu-satunya jalan untuk hidup, katamu, adalah tetap menghirup hawa dari memori. Dahiku berkerut. Kau sudah lama mematikan rasa untuk masa lalu, tapi mengapa tanpa molekul udaranya nadimu tak mau berdenyut?

Kuhela napas pelan. Seseorang bisa begitu terobsesi dengan masa lalunya, atau lebih buruk, tidak bisa lepas untuk menjenguk setiap detail satu sosok yang mengisi apa yang tengah kosong sebelum dia sampai di masa kini. Katamu, rasa sakitnya setimpal dengan senyum manis yang pernah ada dan kau belum mau membaca buku baru. 
Lelaki gila, pikirku. Entah sampai kapan dia akan membaca buku masa lalunya. Entah kapan dia akan menyimpan buku terkutuk itu untuk menyiksa dirinya. Entahlah. Apa manusia yang mengenang ingatan memang dirakit untuk terjebak dalam kenangan?

You May Also Like

8 komentar

  1. kadang manusia terlalu mudah terlena dengan indahnya kenangan lama,,, jika benar-benar peduli dengan sahabatmu ajaklah dia ke perpustakaan atau toko buku, mustahil bagi penikmat buku untuk tidak tertarik dengan buku-buku baru,, karena setiap buku menawarkan kisah yng berbeda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya, si buku alama atau mantannya ga bisa dia lupain. Hehehe terlalu cinta dianya.

      Hapus
    2. bilangin ke dia, mup on woy mup on.. ini udah mo taun baru masih juga mikirin mantan!!! :o

      Hapus
    3. Lah mantannya emang udah ga ada tapi masih tetep aja. Meninggalnya masih blom lama sih

      Hapus
    4. waduh,, salah ngomong kayaknya ini..
      setelah revisi sebentar, bilangin ke dia ane turut berduka,, tapi tetep muve on dong... coz hanya the script doang yang ga bisa move on ---> the man who cant be moved

      Hapus
    5. Hihihi lagu itu mah. Iya sih sedih juga liatnya...mau merit rencananya tu tapi ya gitu...cuma memang wajar sih dia masih sedih gitu

      Hapus
    6. waduhh,, lebih parah lagi ntuu.. tragis,, kado terburuk di akhir tahun... sekedar saran,, biar move on nya cepet beliin doi kalender 2015 kalo belum bisa move on juga beliin kalender 2016..

      Hapus