STALKER KRONIS

by - 19.33

Satu bagian dari tubuh dibawa pergi. Dia punya detakan. Basah, bernyawa, tapi sedikit bodoh. Benda itu disebut hati. Mekanisme pertahanan terhadap rasa sakit sebenarnya tidak pernah didapatkan melalui usaha eksternal. Itu hanya alibi kurang kerjaan yang akan menuntut rasa penasaran beredar pada satu nama di masa lalu yang masih saja enggan dilepaskan, masih dipegang erat meski membunuh pelan-pelan. Pernahkah kau berpikir dengan otak mandegmu saat menyebut namanya bahwa hidupmu yang kacau balau itu akan tertata kembali jika mau melakukan satu aktifitas yang disebut usaha?

Aku sedang berkutat dengan sebuah buku. Buku tebal berisi analisa mengenai cara renjana mengorbit di peredaran darah seseorang. Jatuh cinta adalah eksistensinya. Tidak akan ada jatuh cinta tanpa keterlibatan rindu, tidak akan ada rindu yang terobati jika hasrat tak terpenuhi. Asal tau saja, cinta bukan anastesi bagus untuk menekan rasa sakit. Dia justru analgetik yang membuatmu tetap sadar. Sadar tapi terluka. Sadar dan bahagia. Dua sisi yang berlawanan tapi tidak akan hidup jika salah satunya mati.

Perhatianku masih dimiliki buku itu. Berbeda dengan temanku di pojok sana. Aku mengikik. Dia terkena radang stalking kronis. Baginya, jatuh berkali-kali melihat si masa lalu yang sudah bisa tertawa tanpa dirinya adalah edukasi yang tepat untuk menguatkan diri. Tapi setiap kali menguntit, kau merasakan luka yang sama akibat rindumu tidak kesampaian. Bodoh, justru logikamu sudah lama patah di awal sejak menjadi penguntit mantan, kawan!

Godaan mengintip seseorang yang dulu begitu kau puja kusebut provokasi yang berbahaya jika tidak dilawan. Rasa penasaran akan menggerogoti makin dalam, dan kau akan berakhir tinggal tulang. Seharusnya akun mantan kau jadikan rival atau sekalian saja dianggap tak pernah kenal. Miris sekali melihatmu begitu terobsesi dengan apa yang ditulis masa lalu pada akun pribadinya. Hidupmu sendiri tak terurus, hanya berkutat pada pertanyaan apakah dia masih mengingatmu atau tidak. Kujamin masih, hanya saja dia lebih tangguh menolak dirayu rasa penasaran agar tidak menderita sepertimu. Jadi, masih mau tersiksa? Atau mulai berbenah dan berdamai tanpa ada lagi lara?

You May Also Like

4 komentar

  1. begitulah hati: basah, bernyawa dan bodoh.
    keren :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ada yang berkunjung hehehe makasiih. Kunjungin balik ah

      Hapus
  2. ga nyampe otak gue baca bacaan kaya gini haha

    BalasHapus