SANDERA IMPRESI

by - 16.35

Sore ini lumayan renyah dan identik dengan kemarin. Gerimis agak reda meski masih turun pelan-pelan. Benda bening itu tengah menjangkau area yang sama, belum berminat beranjak dari opsi meretas memori sebagai pemantik tetesannya. Jaketku tak lagi kering dan rambutku juga bernasib sama. Lekat-lekat kukerudunggi helai-helai itu dengan penutup kepala yang menyatu dengan pakaian yang kukenakan dengan tangan kanan. Kenapa? Sela-sela jari kiriku sibuk mengapit pegangan mug keramik berisi cappuccino panas. Kepulannya tak keluar jalur atau menyimpang. Terang saja, karena kucegat dengan tutup karet yang lucunya sama dengan lapisan warna yang membungkus sepatu berbahan suede dengan warna monokrom. Benda empuk itu juga tak keberatan kuajak menyentuh aspal lembab.

Jalanan agak jauh dari kata bingar. Mungkin orang-orang enggan keluar dari persembunyian di saat cuaca sedang bersuhu rendah seperti ini. Bagiku tak masalah. Ada malaikat-malaikat yang berpatroli di sekitar tubuhku. Rasanya aman, sama halnya seperti mengingat terma-terma yang disabda bibirmu saat kita sedang berdua. Sayang sekali gerimis sore kuterobos sendiri saja. Dari earphone yang menggantung di lubang telinga, kudengarkan lagu Jepang yang cukup berani mengusik lelap rindu yang sebetulnya kulindungi sejak melangkahkan kaki dari beranda tadi. Ah, sial. Serasa dikeruk dengan kasar dan pelan bersamaan setiap lirik bagus mengeluarkan atmosfir rindu yang leluasa mematahkan logika.

Langkahku masih melaju dan impresi tentang kamu pun belum disudahi. Aku mau mengunjungi taman dekat hutan di ujung gerbang jalan sana yang seharusnya kutapaki beberapa hari lalu. Kapan kita bisa bertemu? Kapan bisa kumarahi tingkahmu yang seenaknya mengganggu konsentrasiku setiap hari? Kau tahu? Sore gerimis bukan hanya dingin, tapi juga manifestasi sepi karena kita tak juga saling memangku rindu. Aku bosan jadi sandera impresimu terus. Sesekali, aku yang mengekang jiwamu. Boleh? Atau aku lagi-lagi harus menunggu bebas sedangkan nostalgia masih terus jadi pemicu sesak yang sulit ditebas?

You May Also Like

4 komentar

  1. sadis.
    bahasanya makin berat deh :))

    BalasHapus
  2. Wuuuu... kalo ada proyek bikin buku lagi dan butuh partner, pertimbangin gue dong..hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seriusan? Passion gue di novel komedi, bro. Lo?

      Hapus