SAMURAI VS ANAK TAWURAN

by - 18.21

Gue suka segala hal berbau Jepang sejak nonton kartun Doraemon. Makin gede, selera film Jepang gue pun agak lebih berkembang ketimbang pas gue masih ujan-ujanan cuma pake singlet doang. Gue juga lebih takluk sama cowok-cowok Jepang dibandingkan ras lain, entah itu pola pikir, selera bermusik, sampe gaya pakaian dan rambut. Berantakan tapi seksi. Awut-awutan tapi bikin gemes. Apalagi pasca nonton Rurouni Kenshin live action, gue makin kagum sama yang namanya cowok Jepang. Ah, kalo soal itu jangan dibicarain terlalu jauh, takut gue khilaf.

Orang Jepang memang penganut teknologi kelas atas. Kita di sini kepikiran aja belom, mereka udah jauh melesat dengan penemuan-penemuan mutakhir. Dibandingkan negara-negara Asia yang lain, Jepang adalah salah satu favorit gue karena bisa setara dengan negara adidaya macam Amrik. Epik!

Salah satu hal yang bikin gue takjub sama Jepang adalah samurai. Samurai, secara garis besar adalah ksatria menangah atas dan memiliki kode etik tertentu. Kehormatan adalah pakaian sehari-hari mereka. Mau jadi samurai pun harus sopan dan terpelajar. Nah, entah kenapa mikirin samurai ujug-ujug malah jadi keingetan sama prajurit tempur negara kita yang sama-sama suka bertarung. Bedanya meerka bertarungnya pake mekanisme keroyokan. Siapa? Anak tawuran. Yup, anak tawuran.

Anak tukang tawuran sebenernya punya semangat membara kayak samurai. Persamaannya cuma di situ doang. Perbedaannya jauh lebih bejibun. Ini dia:

STYLE BERTEMPUR

Style bertempur samurai dan anak tawuran jelas beda. Samurai mengedepankan seni, brutal tapi tetap terkendali. Bengis tapi tetap memegang teguh kehormatan dan sistem berjuang. Bagi mereka menusuk musuh dari belakang adalah perbuatan memalukan. Menikung temen juga tabu. Jadi kalo mau rebut seseorang biasanya mereka terang-terangan. Eh...itu sih dalam hal percintaan. Maap. #GagalFokus.

Oke kembali lagi ke style bertarung. Samurai bertarung satu lawan satu alias duel dengan teknik level tinggi. Kadang malah mereka bertarung sendirian tapi musuhnya banyak. Penyebab adu jotosnya pun masalah pelik yang berkaitan dengan kehormatan. Anak tawuran juga bertarung dengan brutal, tapi penyebabnya biasanya sepele yang seharusnya bisa diselesein pake diskusi. Misalnya gara-gara rebutan cewek, satu kampung diajakin ngeroyok. Gara-gara diejek dikit, pertumpahan darah terjadi. Ga elit banget. Mereka ga bisa menggunakan kepala dingin untuk berpikir. Ditambah ga sabaran, mereka bergerombol menyerang di saat musuh ga punya persiapan. Diam-diam langsung jebret.


SENJATA

Kalo samurai bangga punya katana, anak tawuran cukup pake gir sepeda, pisau lipet, golok bekas gorok sapi sampe pemukul baseboll. Itu pun gir nya entah ngepretelin sepeda punya siapa. Bilang atau ngga, ga ada yang tau. Kalo pisau lipet, gue yakin minjem dari preman deket rumah. Tongkat baseball rada elit dikit daripada tongkat pramuka. Kalo golok bekas gorok sapi, pasti itu anaknya Mang Su'eb yang jualan daging di pasar inpres. Anak tawuran ga mempedulikan kehormatan, yang penting musuh diberantas meski mereka ga punya amunisi yang setara. Beda sama samurai, yang memberi kesempatan musuh untuk melakukan persiapan dan punya senjata mumpuni. Duel sampe mati.


KOSTUM

Gara-gara pernah terjebak di tengah-tengah anak SMU yang lagi tawuran, mau ga mau detail tentang mereka terekam jelas di ingatan. Gue masih inget banget kostum tawuran yang mereka kenakan adalah putih abu-abu. Habis tawuran sobek dan kotor. Samurai punya seragam khusus, jadi ga mengotori baju kebesaran sekolah untuk dilibatkan pada pertarungan (emang samurai anak abege ya? Hihihi). Kasian amat sama emak-emak yang anaknya tawuran. Pulang-pulang kudu nyuci. Iya kalosi anak nyuci sendiri. Udah tawuran, nyusahin orang tua lagi. Di mana sisi kehormatannya coba? Untung mereka ngeroyok masih pake celana, bukan rok rumbai-rumbai sambil bawa pom-pom.


ARENA PERTARUNGAN

Samurai biasanya memilih lapangan atau tempat yang jauh dari area publik sebagai tempat bertempur, kecuali untuk kasus-kasus tertentu seperti pemberontakan yang membumihanguskan wilayah tertentu, kayak Makoto Shishio yang berhasrat banget menghancurkan Kyoto sebagai bayaran atas sakit hatinya. Merunut pada jiwa kehormatan tadi, samurai lebih memilih duel di tempat yang dari paradigma mereka, daerah yang memungkinkan mereka leluasa saling serang. Beda dengan anak-anak yang hobi tawuran. Bakat ngeroyoknya ga liat situasi. Di pasar, di jalan, juga di pemukiman warga. Mungkin memang di negara kita area lapang udah banyak berkurang, jadi pada bingung mau berantem di mana. Itu pun efeknya ga main-main. Rumah tetangga yang ga ada hubungannya sama kedua belah pihak rusak. Iya kalo diganti. Habis tawuran pada kabur entah ke mana. Di jalannan, pemblokiran menyusahkan para pejalan atau kendaraan yang mau lewat. Kasian yang mau ngelahirin harus putar balik, atau yang mau ke pasar kayak gue jadi diomelin nyokap akibat telat beli terasi. Bener-bener pemuda-pemuda nyusahin.

IDENTITAS

Identitas prajurit Jepang dengan senjata khas katana, yang akan menjalankan harakiri jika kalah sebagai penebusan dan pertahanan atas harga diri jelas-jelas punya nama. Samurai. Nah kalo anak tawuran, gue blom pernah tau apa nama komunitasnya. Tawuran Lovers? Geng Putih Abu-Abu? Triad Kampung? Keroyokan Boys? Atau The Bentroker? Eksistensi kumpulan orang yang hanya memberikan kerugian emang ga bisa disebut dengan nama khusus. Jelas-jelas anak tawuran bikin suasana jadi ga kondusif. Alasan mereka bertarungpun ga bisa dipertanggungjawabkan sama sekali.

Dari dua sisi yang berbeda di atas, kita bisa menyimpulkan bertarung dan berjuang sebenernya ga harus menumpahkan darah. Mahasiswa misalnya, demo boleh asal tertib. Tawuran boleh tapi pake stik pe es aja. Lebih aman dan pengaturan strateginya pun melibatkan otak. 

Nah, kalian pernah tawuran ga guys? Share yaaa....




You May Also Like

0 komentar