RINDU: STRATA MAYOR

by - 15.00

Rindu tidak pernah masuk ke dalam jajaran strata minor. Dia kandidat kuat yang selalu ada di posisi teratas sebagai satu rasa yang begitu diinginkan sekaligus menyakitkan. Seharusnya draf rindu terhadap seseorang bisa dikonfigurasi ke dalam hierarki agar lebih sederhana. Nyatanya, merindukan seseorang itu tak berbeda dengan status kertas yang baru saja dikepal oleh genggaman tangan. Kusut berkerut. Juga bisa disamakan dengan sandi tertentu yang justru tidak dimengerti. Rumit. Bikin otak kacau.

Rindu sulit untuk berdifusi. Dia berkumpul di satu titik hati tanpa menyebar sama sekali. Percayalah, rasanya ngilu dan sangat nyeri. Rindu ada karena jarak yang terpapar terlalu jauh. Jika saja dekat, renjana memungkinkan untuk diminimalisasi dan kegusaran sedikit terobati. Tapi saat ini tubuh harus bersedia dihinggapi penat yang meradang akibat disergap rindu berkepanjangan. 

Ada beberapa hal yang tak pernah bisa kumengerti sejak rindu menjadi inferensi atau kesimpulan dari inginku atas kamu. Setiap kali berdiri di atas balkon dan memandangi konstelasi di langit malam, memori-memori baru tercipta meski belum terlaksana. Tentu saja intinya adalah kamu, peretas angkuhku yang sejak lama tidak terganggu oleh aset termahal cinta, yaitu renjana yang berkuasa secara penuh. Kukira rindu hanya fiksi, tetapi sesungguhnya adalah perasaan paling aktual yang bisa dirasakan manusia saat yang tercinta belum bisa mendekap batin dan raga.

Sensasi merindu itu memang ada di kelas mayor karena sama sekali tidak tergantikan atau turun tahta. Kukenali rasa itu sebagai investasi, di mana kamu sebagai yang dirindukan terbiasa kucemaskan tanpa henti. Terkadang memang menimbulkan sembilu, tapi kecerdasan rindu yang hanya mengarah kepada satu orang saja adalah kelegaan karena dikatahui bahwa itu merupakan aplikasi dari loyalitas. Peraturan strata mayor cuma satu. Rindu hanya akan berharga jika diberikan oleh manusia setia karena dia sama sekali bukanlah materi taksa.


You May Also Like

0 komentar