RESTAN LUKA

by - 19.29

Cinta memiliki porsi rasa dengan divisi berbeda. Cemburu, hasrat, harapan, doa, dan jangan lupakan fraksi parut bernama luka. Cinta dan luka layaknya sepasang kembar identik. Serupa tapi tak sama, namun berada pada satu embrio hati yang mendapat asupan darah dari satu pembuluh inti. Membicarakan luka mengingatkanku pada sosok yang tak bisa berhenti memutar proyeksi seseorang yang digilai. Bukan masa lalu, tapi masa kini karena belum sempat dimiliki.

Lelaki polos itu selalu menulis puisi tentang gadis bernama luka yang sempat dilihatnya di sebuah taman kota. Tubuhnya semampai dibalut sweater rajut yang terbuat dari untaian doa. Rambutnya berhelai cahaya, dan senyumannya sanggup melemahkan logika. Mereka bertemu dan berkenalan, saling bercerita tentang langit dan manuskrip awan. Lelaki itu tak pernah tahu bahwa mengharapkan luka sama saja menyiksa jiwa. Dia terus mengikuti dan mengagumi luka tanpa memprediksi efek yang terjadi saat menyentuhnya.

Terlambat. Lelaki jatuh cinta pada luka. Luka menimpali dan meminta raut wajah gembira itu agar dihiasi sedikit rasa kecewa dan air mata. Berhasil. Lelaki mengerang akibat bekas parut yang begitu rupa saat luka bersedia menjadi cintanya. Dia tersakiti begitu dalam sampai tak sanggup lagi menyediakan air mata untuk si luka. Yang tertinggal adalah sayatan memanjang jauh di dalam rongga hatinya yang kini melemah dan sekarat.

Cinta dan luka adalah pasangan sejati. Kebahagiaan akan ada, tetapi luka tidak ingin dianggap rendah apalagi disingkirkan. Cinta membutuhkan luka agar ketegarannya berdiri tangguh dan siap menerima aral-aral yang baru setiap hari. Akan ada jarak, rasa bosan, pertengkaran, pelukan, juga keintiman sempurna. Semuanya datang bersamaan, rasa paling agung dari inti cinta terdalam antar dua ras otak dengan pola pikir berseberangan. Jika mencintai berarti terluka, mengapa manusia bersedia mati untuk dapat merasakan sensasi jatuhnya? Entahlah. Yang kutahu, cinta tidak akan tegar jika tak ada luka. Sebaliknya, luka tidak akan hidup tanpa napas dari cinta.

You May Also Like

0 komentar