PROSA LELAKI VS DRAMA PEREMPUAN

by - 21.13

Aku tidak terlalu memproteksi pikiran dengan tulisan-tulisan roman. Namun otak butuh sesuatu yang senyap dan ramai bersamaan. Aku tidak bisa gegebah memilih interpretasi seseorang untuk mempengaruhi pola pikirku dalam menghabiskan sisa-sisa kepulan secangkir kopi yang diseduh dengan memori matang tapi terkadang sedikit menyakitkan. Tulisan yang dicipta dari dua makhluk berlawanan sungguh menarik. Tapi entahlah, kurasa prosa lelaki lebih menggoda untuk dinikmati. Bukan memojokkan bagaimana perempuan berpuisi, hanya saja otak lelaki jauh lebih canggih dalam menilai cinta dari segi perih yang tidak diinjak-injak drama picisan.

Harus kuakui bahwa perempuan kalah jauh dalam mengapresiasi naskah kisah cinta ke dalam ikhtibar yang berbeda. Mereka dan juga aku sama-sama melintas di dimensi satu frekuensi sehingga setiap frasa dan klausa tampak sama dalam rasio, tampak serupa dalam ego, dan tampak lahir dari esensi tipikal. Sedangkan lelaki justru unggul meracik pucat dan rasa sakit menjadi dominasi utuh atas karya  imajiner tanpa pamrih dan jauh dari diksi cengeng. No offence, aku lebih banyak tertarik membaca buku yang ditulis tangan kekar daripada tangan halus, meski yang kedua banyak kutemui luar biasa bagus. If you know what i mean.

Pohon apel yang dulu menjadi tempat perenungan, yang pada masanya memberi tentang sebuah teori kini telah bersanding dengan pohon yang berbatang kelapa, beranting cemara, berdaun teratai, bergetah menyan, dan berbunga kamboja. Serta berpucuk bintang ketika lantunan doa telah menjadi pusat menyepi bersila soliloquy.

Ternyata semua ini hanyalah wujud citra dari perasaan yang saling sinkron dengan yang tertuju. Yaitu "dirinya dan diriku". Siapa dirinya, ialah objek ketika "aku" menjadi subjek. Serta sebaliknya. Juga ketika kata- kata telah menjadi peta, sebab tanpanya seolah kalimat menjadi tersesat. (Delta Rudi)

See? Aku selalu dibuat terkesima oleh padanan kata yang kunilai extraordinary seperti ini. Masih banyak penggalan dari manusia yang lain, tapi ada filosofi dan keletihan seseorang atas cinta yang bisa kuraba pada dua paragraf di atas. Itu hanya salah satu contohnya saja di  mana resah dan cinta seorang lelaki dikerat gelap, manis, miris tapi sekaligus bersih dari inferioritas.

Lain kali kuseduh naskah dari tangan perempuan. Terlalu banyak, jadi harus kupancing yang lebih berbeda dari yang lainnya. Perempuan adalah pribadi istimewa, sedangkan lelaki sangat lihai mematahkan dan mencederai logika lawan jenis yang sedari awal memang sudah rentan. Kalian hebat. Itu sebabnya dua makhluk itu layak dipersatukan. Iya, kan?
 

You May Also Like

4 komentar

  1. Iya bener -__-

    Eh, ini rangkaian kata awalnya juga nice banget. 😨 ngena deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah baca dan komen ya sistaaa...hihi sama ternyata nih

      Hapus
  2. begitu lah simbiosis laki-perempuan ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling menyeimbangkan ya hehehe makasih udah mampir yaa

      Hapus