PAYUNG SEJUK

by - 21.32

Terdengar hipokrit saat seseorang bersabda tentang jatuh hati setengah mati kepada hujan justru disaat tubuhnya tak ingin basah. Terkesan seperti pengidap inkonsistensi saat seseorang bertutur bahwa jiwanya satu konstituen dengan rinai namun meminta payung melindungi diri dari percik rintik bersuhu dingin itu. Aku mengikik geli jika mengingat bahwa kuutarakan kekaguman pada hujan tapi tak ingin terkena partikelnya. 

Saat ini, bersandar di tiang lampu depan toko souvenir bersama payung abu-abu dengan sedikit sentuhan monokromatik adalah pilihan bagus. Hujan dan sebuah payung sama-sama estetik. Keduanya punya molekul-molekul kreatif dan sanggup mengubah persepsi manusia mengenai banyak hal. Misalnya saja lirik lagu dan puisi yang lahir dari syahda keheningannya. Aku tak lagi sentimen terhadap apa yang tercipta lirih meski terwujud akibat dua benda itu. Aku tidak bilang tergila-gila pada hujan tapi aku memang menyukainya. Sedangkan payung di tanganku tak ubahnya pengingat bahwa beberapa waktu lalu gagangnya digenggam oleh seseorang. Seseorang yang memilikiku atas gagasan rasa paling agung yang diciptakanNya.

Payung, hujan dan kesejukan saling merapatkan emosi satu sama lain. Bisa saja kubiarkan tubuh terguyur sampai kuyup tanpa pelindung sama sekali. Bisa saja kuizinkan kristal-kristal halus itu menyentuh bibir dan mataku berkali-kali. Tapi dia bilang menyukai hujan tak berarti harus menggigil atau menyebabkan gigi bergemeletuk. Menikmati suhu sejuk lebih aman ketika benda bulat berbahan kanvas tebal diikutsertakan. Di bawah pelukannya, sejuk berubah lebih ramah, hujan tetap romantis sedangkan dua hati tetap bisa saling memiliki di satu lingkaran unik.

Aku menunggu kapan saat itu datang lagi. Detik di mana degupku dan degupnya berima di satu garis gelombang yang sama-sama lurus dan halus. Aku rindu tangan itu menggenggam gagang payungku, lantas bergumam bahwa sejuk lebih cocok bersama hujan dan sebuah payung. Kupikir tetesan bening itu tidak akan pernah bermutasi menjadi elemen hangat, tapi aku salah. Sedikit rekayasa terkadang berguna. Bukankah suasana hati bisa memanipulasi dingin jadi hangat dan sekat menjadi rekat?

You May Also Like

12 komentar

  1. masih tetap indah seperti postingan sebelumnya, wahai wanita pujangga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makaksih karena selalu mampir yaaa

      Hapus
  2. ini ceritanya teringat seseorang ya ? memang kadang banyak orang yang mengingat seseorang krn hujan dan suasana2 lainnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya. Hujan itu bikin kangen seseorang. Makasih udah mampir yaa

      Hapus
  3. Seperti biasa, dalem banget bahasanya :))
    Oya, ini pertama kali gue comment di sini ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo blg seperti biasa, brrti sering mampir ya? Hehehe pedebanget.com. Eh makasih akhirnya kasih komentar...

      Hapus
  4. prosa yang sangat dalam dan bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya udah baca dan ksih komen. Menueurtmu hujan itu apa?

      Hapus
    2. Hehehehe udah gitu doang?

      Hapus
  5. mantep..
    salam kenal yaa. kalo berkenan visit back ke katamiqhnur.com juga yaa...
    :D

    BalasHapus