PANTAI RENJANA

by - 17.11

Banyak depa jarak dari ujung kakimu dengan bayanganku merentang. Belasan pagi kulewatkan tanpa menerima kecupan dari bibir hangatmu sambil berbaring di sisi. Lalu senja dengan warna eksotis tak serta merta mudah menggugah kekagumanku lagi. Bagaimana dengan malam, yang langitnya beremah bintang dan dijadikan kelambu bagi serbuan prajurit mimpi? Dia juga sedikit mengabur di ingatanku, digerus keinginan untuk bisa kembali saling berpagutan jemari. 

Pagi tadi pantai kukunjungi lagi. Dia mendesirkan bunyi-bunyian merdu dari karang perkasa, lalu berlanjut dengan wewangian partikel garam yang terhampar dalam bentuk luapan basah. Payung langit sedang tenang, pun debur mengantarkan suratmu yang kunanti sejak beberapa hari lalu. Isinya masih tetap sama, mengetuk kabar dan apa saja yang kulewati beberapa bulan ini.

Segalanya belum berpindah. Jingga masih meredup, denah rasi masih mengorbit pada tempatnya, Oleina Syzigium atau tanaman pucuk merah masih setia dengan gradasi pelepah dan helainya, juga aku yang masih selalu bersenda gurau bersama belaian air laut yang memeluk rindu yang terendam agak dalam. Pastinya sambil membicarakanmu, juga menganalisa prosa-prosa yang ditulis embun dan ditinggalkannya pada kaca jendela kamar.

Duduk di dermaga ini kurasakan santai, tapi akan lebih bagus jika kamu juga mendengarkan prolog-prolog istana Poseidon ini bersamaku. Kejernihannya adalah kenyamanan, di mana senja bisa datang tanpa canggung, siang yang mengandung sengat bisa diam tanpa diganggu, malam pun betah berlama-lama memandangi pasir putih yang menggelitik ketika menyentuh kaki. Balasan atas suratmu akan kukirim esok hari, dan akan kuceritakan bagaimana pantai dan semua analogi yang membangun keindahannya ternyata tahu seagung apa cinta yang kita punya sejak hari itu.


You May Also Like

0 komentar