NOTASI, KERANGKA AWAN DAN CAPPUCCINO

by - 19.45

Sore ini senja tampak sehat. Ini saat yang tepat untuk jiwa rebah dan sedikit santai. Sengaja kuluangkan waktu untuk menikmati satu lagu yang baru saja dikirim oleh seorang teman. Tentunya ditemani gelas yang mengembun. Kutambahkan balok-balok es ke dalamnya untuk menghilangkan keangkuhan yang dimiliki kopi panas yang kusesap kemarin pagi. Kutahu iklim sedang dingin. Tapi biar saja. Bukankah melawan arus terkadang perlu? Bukankah pongah yang congkak sesekali harus ditantang agar kalah?

Yang kutahu, pasangan paling elegan bagi mendung adalah secangkir kopi atau hal lain yang terasa manis. Sayangnya, kerangka awan redup tersebut kadang harus mengalah tersisih karena dedak pekat acapkali berselingkuh dengan melodi. Aransemen notasi kuat yang agak brutal disertai emosi yang tak terkontrol  bisa ditenangkan oleh segelas cappuccino bertemperatur sejuk. Demi awan yang berkumpul di atas sana, musik dan tubuh bening yang diperlakukan lembut oleh jemari adalah kehampaan yang tak lagi menderita. Dia terbebas dari kekhawatiran mengenai masa depan atau seseorang. Jika sudah begitu, mendung, cappuccino dan melodi akan saling cemburu.

Melodi lalu mengalun dan lirik yang mampir di telingaku mengandung kegusaran mengenai apa arti mendung yang disiapkan langit untuk manusia. Kukira, barisan awan itu pantas disebut sebagai konstruksi keteduhan, manifestasi yang melindungi, cerita tentang cinta yang tak sempat dimiliki, kesenyapan air mata, juga campur tangan senyuman yang merengkuh setiap orang agar bahagia.

Mengagumkan sekali bagaimana perpaduan notasi, mendung dan segelas cappuccino melengkapi puing-puing kenangan senja hari. Kudongakkan kepala ke atas sana. Awan-awan sepakat membentuk bibirmu yang sedang tersenyum, bercampur dengan lirik-lirik yang masih saja mengalun. Tidak ada yang tidak punya peran dalam hidup. Cuaca mendung bisa saja membuat seseorang berhasil menyadur puisi dari hatinya sendiri. Notasi yang membentuk lagu yang enak didengar sukses menghilangkan jenuh. Sedangkan segelas cappuccino menghilangkan dahaga akibat terlalu lama haus akan rindu. Tak ada yang salah saat ketiga hal itu digabungkan atau dinilai. Tapi harus kuakui, notasi tanpa mendung agaknya kurang megah. Mendung tanpa minuman manis adalah kecacatan, dan cappuccino tanpa lagu adalah rindang yang percuma. 

Jadi jika harus memilih, mana yang akan diambil untuk dijadikan sahabat? Mendung? Notasi sebuah lagu? Atau cappuccino yang menghadirkan rindu? Bagiku, salah satunya hilang adalah kerugian tak terbantahkan. Sandingkan semuanya, maka akan ada celah di sana untuk sebuah kesempurnaan.

You May Also Like

6 komentar

  1. ihh, suka gaya tulisan kamu :') salam kenal!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya sista udah mampir dan nyempetin baca. Salam kenal jugaaa ^_^

      Hapus
  2. Salah satu hal yang menyenangkan apa yang kakak lakuin itu disaat sore, hehehe tulisan nya mantap kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir yaa...Hm...enaknya sore-sore tuh minum cappuccino sambil nonton film hahaa

      Hapus
  3. Anjrit, tulisannya selalu membuatku terpanah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak karena selalu nyempetin baca ya, teman. Seneng banget.

      Hapus