NEGATIFISME HUJAN DAN PECANDU KOPI

by - 20.18

Identitas hujan sebagai peluruh luka berbanding terbalik saat negatifisme yang dianutnya muncul ke permukaan. Berkubik-kubik tetesan jatuh itu berbaris mengkonstruksi raut-raut pedih akibat tandan renjana yang lagi-lagi harus sabar menanti. Hujan bisa menjadi peta paling akurat dalam mengendarai memori manis, tapi juga sering berubah menjadi penyebab ketidaksinkronan rindu dari dua hela napas yang saling menginginkan.

Membicarakan hujan tidak akan lengkap tanpa melihat lelaki pujaan dipayungi senja ketika langit basah sembari mencumbu secangkir kopi. Entah mengapa, penghuni dunia yang satu itu terlihat jauh lebih tampan dan menarik ketika berelevansi dengan dedak gelap dan kepulannya yang teramat hangat. Aku lebih suka memandangi tanpa mengganggu. Aku lebih suka menikmati bagaimana lelaki yang kucintai menyatu dengan hujan dan keutuhan dongeng dari beberapa reguk cairan di dalam cangkir kokohnya.

Hujan dan lelaki-ku adalah euforia totaliter, tidak ada kerancuan atau pengabaian yang bisa menyergah keagungannya. Waktu dan jarak memang masih membentuk barikade, tapi esensi yang muncul adalah tunas-tunas mimpi yang wajib dilisankan dalam senyap meski terdengar klise. Hujan memang bermuka dua, tapi tidak pernah jahat. Hanya saja ada senti-senti sayat yang mengena di detak jantung apabila rindu datang tanpa perantara tetapi belum bisa terlaksana. Tapi tak apa, menatap secangkir kopi yang dinikmati si lelaki adalah obat paling ampuh untuk menulis bait-bait baru.

Negatifisme hujan dan pecandu kopi bernyawa lelaki adalah keutuhan sempurna yang diciptakan Tuhan untuk menemani derap kaki berjalan atau berlari. Untuk rinai pertama yang datang, kutitipkan pujaan pada lembutnya suara. Untuk hujankedua  yang sering membawa kecewa, kusampaikan jurnal keinginan agar terpenuhi tanpa cela. Dan untuk rintik selanjutnya yang berlawanan dengan kata negatif, kuhaturkan terima kasih karena selalu sudi hadir tanpa bersikap defensif.

You May Also Like

6 komentar

  1. Balasan
    1. salam kenal ya,
      btw followback blog saya dong :)

      Hapus
    2. Makasih udah mampir dan ngasih komentar ya

      Hapus
  2. Wadduh... bacanya harus super lambat nih, harus mencerna setiap metafora, setiap diskriptif. Jadi kesulitan saya membacanya,... tapi ngaa apa-apalah, saya salut dengan penulis seperti ini, jarang-jarang orang yang bisa, ini baru sastra beneran.... kayak di Majalah Horizon, bahasanya ya ampun... harus sudah terbiasa.... satu kata untukmu, “salut!!”

    BalasHapus
  3. Waduh maaf bikin susah paham, tp makasih bgt udah nyempetin baca...makasih bgt

    BalasHapus