MY ENDORPHINE

by - 19.13

Kupikir, seseorang hanya memiliki peluang kecil untuk menjadi endorfin. Aku salah. Kamu, ternyata menjadi endorfin pengobrak abrik prinsipku, pencetus rindu yang jadi liar padahal tadinya lugu. Dan lantas kini aku sangat menyukai kondisi itu. Kondisi di mana tubuhku dibebat satu rasa yang amat kuat terhadapmu. Cinta, harapan, keyakinan, kehangatan untuk selalu kubagi hanya kepada satu hati.

Rindu tidak punya logika. Jika iya, dia akan berpikir dulu sebelum terlanjur jatuh pada perangkap yang membuatnya gila. Pastinya, bisa kuprediksikan, bahwa tak ada yang lebih ruwet dibandingkan merindukan seseorang yang berjarak 11 jam menggunakan pesawat dari tempatku berpijak. Jika sudah tak kuat menahan, terkadang kugunakan latar senja untuk berkomunikasi denganmu. Lewat jingga spektrumnya kukirim jurnal berisi banyak sekali klausa-klausa penantian.

Kuhitung beberapa saat dan ternyata sudah terlalu banyak lembaran rindu atas nama kamu. Kalau dibukukan, mungkin sudah pantas dijadikan ensiklopedia renjana atau manu scriptus yang sengaja kutulis menggunakan bahasa jemari, bukan alat ketik yang otomatis membunyikan suara hati tanpa susah payah. Bagiku, menuliskannya secara kuno akan terlihat lebih hidup, juga mengandung sedikit pahatan zaman peralihan. Megah, klasik, tapi bernilai seni tinggi.

Rindu ber-endorfin yang terkirim darimu untukku secara mudah diolah menjadi sesuatu yang utuh dan punya jalur sendiri. Dia penyelinap ulung, tau-tau wajah seseorang  langsung selalu muncul tanpa penghubung. Wajahmu, tentu saja. Dengan menatap kontur setiap garis yang ada, ketenangan termutasi, tersuplai lengkap dengan senyuman yang terlampir lewat tatapan lensa berwarna coklat itu.

Rindu tidak pernah ringkih. Partikelnya selalu awet muda dan jauh dari kata letih. Begitu pula rinduku untukmu. Setiap hari beregenerasi menjadi energi, berkolaborasi dengan setiap koordinasi tubuhku untuk menjadikannya selalu baru dan berintergasi dengan segala yang terkoneksi antara kamu dan aku. Kamu memang endofinku, jiwa yang memasok persediaan napas untuk aliran darah, di mana pembuluhnya tak bisa hidup tanpa satu hurufpun yang merangkai namamu.

You May Also Like

4 komentar

  1. Bahasanya tingkat tinggi, keren...!!!

    BalasHapus
  2. Rindu itu .... ketika merindukan seseorang yang tak diketahui identitasnya

    BalasHapus