MEJA TAMAN RINAI

by - 20.49

Ada sebuah meja taman dengan alas duduk unik di kotaku. Keunikan meja tersebut terletak pada kondisi kayunya karena hujan selalu datang setiap kali aku dan kamu duduk di sana. Bisa dilihat tekstur serat kayu itu lembab namun tetap hangat dan tak rapuh sedikitpun. Aku duduk di sana, membaca buku atau sekedar menyeruput cappucino hangat bersama sisa-sisa tetes awan dengan panel rindu yang malu-malu untuk diutarakan.

Aku sering membunuh waktu di sana hanya ditemani diam. Diam yang bercakap-cakap melalui helaan nafas berembun karena hawa dingin di sekitar. Terkadang kata-kata tidak dibutuhkan. Kesenyapan, perbincangan melewati garis-garis batin dan senyuman yang beradu dengan tatapan mata sudah cukup menggambarkan seperti apa perasaan yang sedang dialami. Meski kamu masih disandera jarak, aku tetap bisa membayangkanmu menggenggam jemari dan berkelakar tentang banyak hal.

Sesekali angin berkisah tentang perjalanan dan portal yang memiliki ruang di mana aku dan kamu biasa bertukar pikiran. Aku selalu gembira setiap kali udara sepoi-sepoi mengingatkanku tentang itu. Sama halnya dengan meja ini yang menghubungkan dua nama untuk dapat menciptakan kenangan-kenangan baru meskipun di tempat yang sama. Bukankah tempat yang biasa dikunjungi adalah tempat paling berkesan untuk saling mengirim surat hati? 

Setiap roman memiliki satu tempat yang merelevansi masa lalu, kini dan masa depan. Tempat itu takkan pernah berganti walaupun mungkin akan berubah seiring berjalannya waktu dan generasi. 
Meja taman hujan ini adalah wahana di mana puisi, prosa, anekdot, dialog dan sonata mengadakan konferensi. Tempat ini istimewa karena menjadi saksi di mana langit mengamati dua cinta yang terikat satu sama lain. Dua manusia yang selalu merapal doa-doa dalam keheningan, doa yang sama dari lisan yang berbeda.

You May Also Like

0 komentar