LIRIK: KANAL TRANSISI

by - 12.15

Mencengangkan apa yang bisa dilakukan bait-bait lirik pada sebuah lagu pada kestabilan emosi seseorang. Lirik lagu sebagai literasi artistik melingkupi cabang-cabang genus ekspresif, sentimentalitas, lengkungan bibir membentuk senyuman, kegusaran, luapan perasaan, juga tangis yang disembunyikan. Aku kagum bagaimana seorang musisi mengeruk rahasia setiap orang yang tadinya introvert soal mimik wajah berubah begitu terbuka seiring naik turunnya notasi.

Lirik sebuah lagu bagiku seperti refleksi cerita gamblang seseorang, bahkan diri sendiri. Lirik sepertinya sangat mudah menarik indera pendengaran untuk tetap setia pada sajak terakhir, pada irama paling ujung sampai tak ada bunyi lagi. Sulit untuk memenggal di tengah-tengah, seperti ada mantera tertentu yang dirapal begitu rapi yang membekukan nyawa dan membuatnya pasrah sekaligus berhasrat menikmati sampai pagi.

Akhir-akhir ini, kutemukan bahwa lirik lagu merupakan kanal transisi jiwa. Dulu, defensif adalah sikap yang kuambil. Menikmati musik ya menikmati saja, tanpa adanya sanggahan bahwa apa yang membangun setiap komponennya menarik dan perlu diselami. Terkadang saat melodinya begitu canggih di oktaf paling tinggi, emosiku berontak, jemari mengepal dan tubuh terhentak pada kisah-kisah picisan yang justru setara kelasnya dengan drama Renaissance. Di sisi lain, saat melodinya mengarah kepada kesenduan absolut, hati berempati untuk luka yang diderita ksatria dan puteri yang bermutasi menjadi mayat hidup akibat lara karena kisah cintanya tak lengkap dan tersisihkan. 

Lirik lagu sama seperti nutrisi dan limbah, dua sisi tergantung dari apa yang terkalimatkan. Ada banyak bahan matang di sana seperti emosi gloomy, penciptaan relaksasi, persuasi, pesan, cahaya, kegelapan, cinta, duka, juga kehidupan. Satu sama lain saling mengikat, menyeimbangkan, tapi juga membunuh. Tidak bisa kusebutkan banyak, hanya saja beberapa menjadi sebuah keharusan untuk disesap sendirian. Misalnya saja lirik-lirik lagu The Beatles, Muse, Dream Theatre, Coldplay atau Eminem yang penuh kontroversi.

Band-band lokal pun kini tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak yang punya ekstraksi musikalitas yang mumpuni dan mudah menghipnotis pikiran lewat lirik-lirik yang tak biasa. Butuh pengerahan energi maksimal agar bahasa yang disampaikan meresap dan diinginkan. Bukankah lirik lagu bisa dijadikan asupan bergizi untuk mengembangkan ide-ide yang mengendap lama? Aku suka bagaimana musik dan lirik tak terpisahkan. Lebih kuat, impresif, dan bikin jatuh cinta tanpa berpikir bagaimana ending ceritanya diakumulasi menjadi kisah dengan kekhasan tersendiri.

You May Also Like

0 komentar