KEDAI KOPI TELEPATI

by - 21.48

Tempo hari, kutapaki kedai kopi ini untuk mengulang reminisensi tentangku dan kamu. Kali ini giliran telepati yang menjadi sendok pengaduk cangkir kopi hangatku di atas meja kayu. Di sebelahnya ada beberapa helai tisu bertekstur halus. Tadinya nihil aksara, tapi kupahat namamu di atasnya menggunakan pena yang selalu kubawa. Setelah itu kularutkan dua kotak kecil rindu yang manis ke dalam cangkir sehingga kepulan aromanya sedap lalu kusesap bersama hujan deras di luar sana. Dia belum bosan meminta izin kepada kaca jendela agar membiarkannya masuk sehingga membuatnya mengembun. Aku juga belum bosan merefraksi sandi-sandi batinku untukmu di sana. Sama seperti rintik dari atmosfir malam berselimut gigil, tetap mengakar dan resistan tanpa pengganggu atau lawan.

Bagaimana cuaca di tempatmu? Apakah sama dinginnya dengan dunia yang saat ini kupijaki? Ataukah sedang menghangat? Atau sengat meraja sampai kau mengeluh ingin udara bergerak lebih kencang? 

Ah, lucu sekali kita meracau tentang cuaca. Aku ingat kalimatmu tentang iklim ekstrim. Tak masalah selama di memori ada seseorang yang membuat segala kondisi lebih baik meski sedang berdepa. Aku tersenyum. Kedua sikuku bersentuhan dengan permukaan meja yang juga terbuat dari entitas yang sama dengan kursi yang kududuki yaitu akasia. Bantalan kursinya tebal dan empuk, dibungkus dengan kain lembut tanpa motif dengan kasta warna lembut. Aku suka, tapi sedikit kecewa karena kursi di depanku justru tak berjiwa.

Denyut waktu berpindah dari angka awal dan berputar. Selama itu, bahasa-bahasa hatiku terus kukirimkan untuk kamu. Menit melangkah dan kutahu kau di sana pun sedang menulis banyak kalimat rindu untukku melalui dimensi paralel yang sama-sama kita percayai. Cukup melegakan, mengetahui bahwa perasaanmu terkoneksi dengan sangat baik padaku. Untuk saat ini itu sudah cukup menghibur. Selain lukisan-lukisan antik yang dipajang di kedai kopi kesayanganku melepas peluh, telepati menyuplai persediaan harapan sampai penuh. Bukankah berkomunikasi lewat relung yang tak terindera cukup menyenangkan dan efeknya luar biasa utuh?

Besok, mungkin aku masih akan duduk di kursi yang sama. Besok, mungkin alas duduk di depanku masih juga kosong sampai tiba senja. Tapi nanti, kuyakin ada kamu di sana tertawa saat membahas telepati yang menjadi interelasi kuat antara dua orang yang saling merindukan lewat hati dan kata. Kita.

You May Also Like

6 komentar

  1. suka sama sama part terakhir :)
    dan besok, mungkin status ini juga tetap akan sama: jomblo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ebuseeeh jomblo toh? Sabar ya, semua pasti akan naik pelaminan pada waktunya. Uhuk

      Hapus
  2. Ini adalah percakapan imajiner yang mengunggah hati. Suka tulisan ini! Karena lokasinya di kedai kopi. Tempat favorit saya juga. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah suka kedai kopi juga haha iya, tmpat paling nyaman tuh untuk berimajinasi. Makasih udah mampir ya, kawan...

      Hapus