KEDAI KOPI REMINISENSI

by - 13.03

Di luar sana gerimis berkunjung, menyalami pepohonan dan tiang-tiang listrik yang ditempeli kertas-kertas dengan tulisan yang abjadnya memburam. Dari kaca jendela tampak kontras antara arsir-arsir air dengan gradasi cahaya yang berasal dari lampu kendaraan yang melaju. Kotolehkan kepala dari sana, bergantian memandangi setiap pengunjung kedai kopi ini. Lumayan banyak juga. Ada yang semeja berdua, ada juga yang bernasib sama sepertiku, partner minum kopinya hanya terdiri dari bayangan dan memori tentang seseorang.

Aku sering datang ke sini. Entah hanya untuk duduk diam, terlempar ke dimensi lain akibat memesan kopi dengan bubuk rindu, atau cuma untuk mengagumi dekorasinya yang mengadopsi sedikit sisa-sisa kedai zaman Edo yang justru disandingkan dengan sentuhan cafe Parisian, condong agak bikin tabrakan. Tapi aku suka. Perbedaan justru unit-unit penting yang membuat segala hal berpindah dari monoton menjadi kaidah baru, kecuali seseorang yang defensif terhadap sesuatu yang berbau bentrokan. Ditambah alunan lagu yang diputar bergantian, bergiliran dalam genre dan bahasa. Sungguh bikin aku tergila-gila.

Satu lagi yang kusuka dari kedai ini adalah, pencahayaan yang mengubah persepsi bahwa setengah gelap sebetulnya begitu eksotis, bukan menakutkan atau identik dengan kesendirian meskipun saat ini aku emang sedang jauh darimu. Iya, kau jauh, makanya kedai ini kujadikan pelampiasan agar bisa berkomunikasi denganmu melalui memori. Aku rindu memandangimu ketika sedang minum secangkir cappuccino. Kau pernah memberiku kesempatan untuk mengusap busa lembutnya ketika menyentuh bibirmu. Rasanya hangat ketika bagian itu menempel pada jemariku.

Di luar pendapatku tentang mengagumi tempat ini, kedai kopi menyadur memori yang dikepul aroma hangat yang sangat kuat. Kau selalu mengajakku ke sini. Katamu, kedai kopi bukan hanya tempat untuk membunuh elegi, tapi juga area paling tepat untuk menyeduh mimpi dan memori lalu mengubahnya menjadi kepulan realita. Kita.

Nanti, setelah kita bertemu, aku ingin langkah-langkah kita berpeta di tempat ini lagi. Mengenang memori bukan sesuatu yang tabu, pun akan lebih bagus jika bisa menciptakan tawa baru. Bagaimana? Setuju?






You May Also Like

0 komentar