KABIN, KAMU DAN DURASI

by - 15.21

Otot-ototku pegal, kepalaku sedikit pusing, mimpiku semalam juga belum terolah sempurna. Pasca subuh ketika membuka mata memang periode di mana pasokan energi belum optimal. Seharusnya kudapatkan itu darimu. Jarak emang sentimen. Waktu juga sama. Dua-duanya menyebalkan di derajat despotis dan sialnya tak bisa kuhindari. Bantal di sebelahku kosong. Area yang seharusnya acak-acakan setiap kali bersamamu malah rapi. Sekarang benda empuk berukuran besar ini hanya kutiduri sendiri. Bukankah itu ironi? Tak tahulah. Pastinya pagi selalu konstan dengan durasi yang sama. Keluar dari situasi akut ini sebentar saja adalah keberuntungan. Hoaahmm...aku menguap memandangi sekitar, termasuk kabut di luar sana yang belum menyerpih menjadi embun.

Kabin ini terlalu luas, jadinya sedikit mengerikan dan senyap meski beberapa barang letaknya kuatur secara apik. Ada bufet dekat ranjang yang atasnya kututupi kain berpatron abstrak. Aku suka bufet itu karena memiliki aura zaman Victoria. Di atasnya ada lampu tidur yang lebih sering tak kunyalakan. Dinding ruangan berwarna pastel, makanya kupadukan dengan beberapa lukisan dan kolase foto agar tak terlihat terlalu suram. Dekat meja rias terdapat lemari yang isinya pakaian-pakaianmu, mantelku, beberapa helai atasan, rok, juga beberapa koleksi tas yang kau belikan. 

Kau tahu? Semuanya tampak mati saat yang menempati kabin ini hanya aku. Ranjangku juga jadi dingin. Seprai putih polos dan bed covernya yang berpola dedaunan hijau pucat sama sekali tak punya daya tarik. Berbeda saat depa belum menghalangi kita bertemu lagi. Setiap pagi, yang pertama kudengar adalah suara napasmu, yang pertama kulihat adalah wajahmu, dan yang pertama kucicipi adalah dekapanmu yang sangat segar. Aku rindu setiap detailnya yang tak pernah kusia-siakan, tetapi aku harus bertahan sampai jejakku tiba di tempatmu berpijak.

Lebih lama lagi jauh begini, aku bisa jadi gila. Kumau durasi jauh darimu dipangkas saja, agar ranjangku kembali hangat, berantakan, dan mencipta cerita-cerita baru sebelum kita beranjak dan menyambut kedatangan cahaya di luar sana. Memenggal waktu memang tak semudah membereskan ranjang yang awut-awutan. Tapi paling tidak, kubujuk dia agar membiarkanku berjumpa denganmu lebih cepat dari perkiraan. Semoga.

You May Also Like

0 komentar