INTERLUKOSI

by - 18.55

Setiap orang akan pergi karena urusannya di hidupmu sudah selesai. Skenario bagiannya sudah berakhir kemudian ditutup dengan epilog yang dinamai masa lalu. Itu siklus ternormal yang pernah dibuat. Jangan disesali, tapi biarkan mereka hilang. Biarkan mereka membentuk teaternya sendiri, dengan pemain dan plot-plot baru yang lebih disukai.

Teater menyajikan persona drama dengan para pemain yang terlatih membahasakan kata, gerak dan pemampatan mekanis yang disebut suara. Jika hidup ini adalah teater dengan panggung penuh konflik, maka satu dengan lain bertautan tanpa pernah terputus atau timpang. Bukankah apa yang dilalui manusia itu seperti penafsiran naskah yang disutradari oleh Dia? Kita tidak bisa menolak. Ada peran yang harus diartikulasikan, ada hati yang harus dibahagiakan. Lalu bagaimana dengan hatimu sendiri? Apakah mengadakan percakapan dengan seseorang yang juga bisa membahagiakan bibirmu hingga tercipta lengkungan manis?

Kau berpikir hidup adalah pentas drama megah dengan judul-judul baru setiap hari. Kau berpikir semua yang terlibat akan tetap ada sampai pertunjukkan berakhir, seiring melemahnya napasmu yang dibawa nyawa di gerbang nadir. Namun banyak tak tersadar bahwa sebenarnya nama-nama di dalam draf mau tidak mau silih berganti. Ada yang tetap setia tertulis pada dialog, ada yang hanya menjadi cameo, ada beberapa yang justru sangat peduli namun jatah peran mereka hanya sampai pada tiga puluh senti meter di belakang punggungmu.

Seseorang di masa lalu tidak pernah benar-benar jadi masa lalu. Ada serpihan peran dirinya yang tetap melekat dalam ingatanmu. Tentu saja, kau menghafal namanya dengan sangat sempurna di setiap interlukosi. Kau dan dia tidak pernah menciptakan monolog, kecuali saat dia meninggalkanmu seorang diri dan kau harus berusaha bermain tanpanya yang selama ini menemani. Saat itu, sudah ada pemain baru yang dipersiapkan mengisi kekosongan dan mengambil alih posisi, berusaha menenangkan hatimu yang berongga dan penuh luka.

Masa lalu tidak pernah jadi masa lalu. Dia justru mediator yang diminta narator untuk menjembatani jiwamu dengan masa depan. Saat masa lalu pergi, dia tetap membekas dan tinggal. Pilihanmu, mengizinkannya tetap tampil...ataukah tersembunyi?

You May Also Like

4 komentar

  1. Baru baca nih tulisan yang ini...sukaaaaa...mewakili unek-unekku banget yang tak terbahasakan oleh kata :)
    kalo aku sih...masa lalu dijadikan pembelajaran, tariknapaaass then santai aja coz life must go on,hihihiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya? Wah pas dong? Iya ebner sis, harus terus maju ke masa depan....jangan noleh ke belakang lagi hehehe

      Hapus