AKSES PIRSA HUJAN

by - 11.28

Jika hujan adalah peneduh paling konkrit, mengapa banyak jiwa justru malah enggan tersentuh presipitasinya? Apa karena akan membuat tubuh kuyup lalu dilanda gigil? Jika hujan adalah keutuhan sebuah rasa, mengapa harus hengkang atau mengelak? Terkadang lengah tidak harus ditutupi, meskipun banyak orang yang lebih memilih untuk berlindung dari ranai yang kepalang tanggung.

Sore ini bubuk hujan terlampir sejuk. Tidak terlalu dingin, tapi cukup menggoda tubuh untuk dicumbu selimut sekali lagi. Ruang-ruang puisi terbuka lebar, koridor-koridor prosa tampak lapang. Hujan memang selalu apik memberi keleluasaan bagi mereka yang tertatih dipecundangi rindu. Juga bagi mereka yang terbuang akibat mempertahankan perasaan. Dengan suara ketukan rintik pada kaca jendela, perhatian seseorang bisa dengan mudah teralihkan, lalu melamunkan daur waktu yang sudah terpijaki.

Pirsa atau doktrin hujan mengenai cinta selalu berpikir pada logikanya sendiri. Entah mengapa rasa cinta dan luka selalu hadir di kala rintik itu tergelincir dari genteng rumah. Mengapa salah satu dari keduanya tidak muncul pada periode lain saja? Misalnya saat mentari berpapasan dengan embun atau kala senja dibias debur pantai? Terdengar lebih saga, namun manusia memang mencari yang justru sederhana.

Kendati kapasitas hujan itu lugas dan enteng, banyak hati terperangkap di masa lampau hanya dengan berdiri di bawahnya. Memori-memori yang sakit, wajah yang meninggalkan bayangan, senyum pudar dan luka memerih tak gampang sembuh padahal detik mencoba menguraikan bahwa masa depan jauh lebih artistik dibandingkan masa lalu. Porsi hujan sepertinya disiapkan untuk membuat seseorang berang. Tapi pada faktor kebalikannya, rinai memberi kesan yang lebih beradab untuk cinta sejati dua nyawa.

Lalu saat hujan bertandang, fase mana yang akan kau pilih? Mengenang memori dan luka, atau tersenyum sambil merayakan bahagia?


You May Also Like

2 komentar

  1. Untuk saat ini mengenang memori dan luka sembari berharap kapan digantikan oleh senyuman dan perayaan bahagia. Itu saja. Hujan itu...fantastis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Hujan emang fantastis. Bisa menghadirkan memori, luka, cinta juga.

      Hapus