COKLAT DAN KACA HUJAN

by - 20.11

Aku tidak bisa ke mana-mana hari ini. Kedai kopi Parisian berbasis kusen zaman Edo di ujung jalan itu belum kukunjungi lagi, padahal ingin sekali. Hujan menghadang, pasukannya merapat dengan prognosis yang tak bisa kutebak. Akhir-akhir ini semuanya basah. Teras kayu berpelitur, pot-pot tanah liat yang diisi Dendrobium, alas-kaki bahan karet yang kubiarkan teronggok di muka pintu, juga kaca jendela kamarku yang entah mengapa justru punya kapabilitas yang lebih canggih menyalurkan rindu saat bulir-bulir air mengecupnya berkali-kali.

Hujan belum juga reda. Tadinya suhu belum terlalu binal, tapi lama-lama terpaksa kuseret mantel bulu dari lemari untuk menggiring temperatur dingin sehingga tak mengganggu sensitifitas kulitku yang bisa-bisa merinding tak karuan. Kemudian baru terlintas ada sebatang coklat dengan bungkus utuh tanpa cacat bersemayam dalam kotak pendingin. Untung saja benda itu tidak menolak saat kubawa, juga tak berontak saat kurampas kemasannya dengan gerakan kasar.

Hujan yang berantonim dengan hangat, sebatang coklat lumer tanpa sekat dan kaca jendela kamar yang mudah berembun sungguh unifikasi solid yang bahu membahu mengikis rasa yang menggigit jiwaku ini meski tidak sepenuhnya sukses. Tentu saja, rindu padamu tidak akan pernah bisa dikeruk meski sejenak, meski sejengkal, meski sedikit saja. Akan tetap menempel membentuk koalisi-koalisi rindu yang berfotosintesis setiap hari.

Biasanya kau temani aku makan coklat saat hujan menggempur kaca jendela kamar dengan titik-titik air yang halus. Kau bilang mereka adalah dua delegasi, dua deputi yang disediakan Tuhan untuk mamanggul beban akibat dihajar rasa rindu yang keterlaluan. Keduanya memang sedikit menopang, tapi tak sepenuhnya. Kau tahu bahwa jawaban atas segala pertanyaan adalah dirimu sendiri. Coklat, hujan, lagu bercorak roman, buku picisan atau senja hanya perwakilan. Tapi semuanya mengacu kepada satu, yaitu kamu.


You May Also Like

6 komentar

  1. Seperti ketika km memanuskribkan sesuatu yg sangat sederhana menjadi sangat indah. entah, otakmu terbuat dr apa?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin terbuat dari reminisensi. Tau kan remah-remah memori memang pekat membentuk jiwa yang awalnya rapuh?

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasih udah sempetin baca yaa...kunjungi balik aah hehee

      Hapus
  3. masih tentang rindu yaa, haha :) tak doain ja cepet dipersatukan dg belahan jiwanya
    asyik tulisannya, seharusnya elu jadi gurunya viki prasetyo, biar bahasanya dia tinggi tapi tetep stabil dan kongruen mengalir seirama konteks kalimatnya *apasih ini
    variasi kata dan diksinya banyak banget .. komplit,, jadi pengen kayak gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo jadi mentor si vicky, blom apa-apa kepala gue udah puyeng duluan denger dia ngomong ahahaha

      Hapus